Serial NPSIS (3): Negara Membutuhkan 'Radar Risiko'
ILUSTRASI Serial NPSIS (3): Negara Membutuhkan 'Radar Risiko'.-Gemini/AI-
SETELAH kita memahami bahwa korupsi mungkin tidak dapat diramal, tetapi gejalanya dapat dibaca, muncul pertanyaan berikutnya yang lebih penting. Yaitu, siapa yang membaca gejala tersebut?
Di dunia penerbangan, pilot tidak mungkin hanya mengandalkan penglihatan mata. Ketika cuaca buruk datang, ketika awan menutupi pandangan, atau ketika pesawat memasuki wilayah yang berpotensi berbahaya, pilot membutuhkan radar.
Radar tidak mencegah badai terjadi. Radar juga tidak menghilangkan awan. Tetapi, radar membantu pilot mengetahui lebih awal apa yang sedang dihadapi sehingga keputusan dapat diambil sebelum keadaan menjadi berbahaya.
Saya sering berpikir, bukankah negara juga membutuhkan sesuatu yang serupa?
BACA JUGA:Serial NPSIS (1): Mengapa Negara Selalu Terlambat?
BACA JUGA:Serial NPSIS (2): Bisakah Korupsi Dilihat sebelum Terjadi?
Hari ini pengawasan publik masih banyak bekerja setelah kejadian. Laporan datang belakangan. Audit dilakukan setelah anggaran digunakan. Penyelidikan dimulai ketika kerugian telah terjadi.
Padahal, berbagai aktivitas pemerintahan setiap hari menghasilkan jejak data yang sangat besar. Ada data pengadaan barang dan jasa. Ada data transaksi keuangan. Ada data perpajakan. Ada data perbankan. Ada data realisasi program. Ada pula data perilaku organisasi yang sesungguhnya dapat memberikan sinyal awal mengenai potensi risiko.
Masalahnya bukan karena datanya tidak ada. Masalahnya adalah data tersebut masih berjalan sendiri-sendiri. Tidak saling berbicara. Tidak saling terhubung. Tidak dibaca sebagai satu kesatuan. Akibatnya, berbagai tanda peringatan yang sebenarnya sudah muncul sejak awal sering kali tidak terlihat.
Menurut saya, tantangan tata kelola modern saat ini bukan lagi sekadar mengumpulkan data. Tantangan yang lebih besar adalah mengubah data menjadi kemampuan membaca risiko.
Karena di era digital, negara yang cerdas bukan hanya negara yang mampu menghukum pelanggaran. Tetapi, negara yang mampu melihat gejalanya lebih awal.
Mungkin inilah saatnya kita mulai membangun sesuatu yang selama ini belum kita miliki secara utuh. Yaitu, sebuah radar risiko untuk menjaga uang rakyat. (*)
*) Ulul Albab adalah akademisi administrasi publik, pengajar pendidikan antikorupsi, dan ketua ICMI Jawa Timur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: