Digitalisasi Hati di Bulan Suci

Digitalisasi Hati di Bulan Suci

ILUSTRASI Digitalisasi Hati di Bulan Suci.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BAYANGKAN, pukul 5 pagi, sahur sudah lewat, perut masih kenyang, tapi mata melek gara-gara tangan masih terus scroll layar HP, menyaksikan timeline Instagram penuh video mukbang berbuka ala selebgram. Atau, menatap Tarawih virtual yang live streaming dari Masjidilharam, tiba-tiba notif TikTok muncul: ”challenge puasa tanpa gadget!”. 

Atau, terus mencari update berita peperangan Iran vs Amerika-Israel. Ironis, ya? Kita hidup di era saat bulan suci Ramadan –waktu paling sakral bagi umat Islam– malah jadi ajang perang digital. 

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, menahan lapar dan dahaga bukanlah satu-satunya masalah untuk berpuasa. 

Distres baru yang dibawa oleh era komputer dan internet, termasuk terus-menerus masuknya notifikasi, arus media sosial, dan budaya serbainstan, dapat menguji kesabaran dan fokus, menurut American Psychological Association.

BACA JUGA:5 Alasan Mengapa Anda Harus Sering Bersedekah di Bulan Suci Ramadan

BACA JUGA:7 Doa yang Anda Butuhkan di Bulan Suci Ramadan

Pengelolaan waktu layar, atau layar waktu, adalah salah satu masalah terbesar. Berlebihan makan gawai, terutama menjelang tidur, dapat mengganggu kualitas tidur. 

Padahal, tubuh membutuhkan jumlah tidur yang cukup untuk tetap bugar saat beraktivitas. Kurangnya istirahat dapat mengakibatkan emosi yang tidak stabil dan menurunkan konsentrasi.

DIGITALISASI HATI

Digitalisasi hati di bulan suci bukan cuma soal pakai aplikasi Al-Qur’an atau reminder salat di HP. Ini tentang bagaimana teknologi meresap ke relung jiwa kita, mengubah puasa dari sekadar lapar-dahaga menjadi perjuangan scroll-stop di lautan konten viral. 

Ini pisau bermata dua: peluang emas buat mendekatkan hati ke Tuhan, tapi juga jebakan manis yang bikin hati kita makin jauh dari esensi ibadah. Mari kita bedah bareng, dari cerita nyata sampai refleksi mendalam, biar puasa kita tahun ini nggak cuma digital detoks, tapi digital upgrade hati.

Mulai dari mana? Dari realitas kita sehari-hari. Di Indonesia, negara dengan pengguna internet terbesar keempat dunia (data We Are Social 2025 bilang 215 juta orang online setiap hari), Ramadan selalu jadi puncaknya. 

Ingat tren 2024 kemarin? ”Ramadan Series” di Netflix dan YouTube bikin orang bergadang nunggu episode baru, padahal subuh sudah dekat. Atau, live streaming buka puasa bareng artis di TikTok, yang view-nya miliaran. 

Menurut survei Kemenag tahun lalu, 70 persen anak muda usia 18–25 tahun mengaku akses konten religi via medsos naik 40 persen saat puasa. Keren, kan? Tapi, stop dulu. Ini digitalisasi hati macam apa? Yang bikin kita puasa fisik, tapi hati kebanjiran dopamin dari like dan share?

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: