Koridor Sempit Demokrasi

Koridor Sempit Demokrasi

ILUSTRASI Koridor Sempit Demokrasi.-Maulana Pamuji Gusti-Harian Disway-

BACA JUGA:Ledakan Ketimpangan Global: Jalan Menuju Demokrasi Emansipatoris

Itulah pandangan pembangunanisme, developmentalisme, yang dikembangkan rezim Orde Baru. Pembangunanisme menekankan pada pembangunan ekonomi untuk menyejahterakan rakyat dan mengabaikan pembangunan demokrasi. Konsekuensinya, ketika pembangunan ekonomi hancur oleh krisis moneter, legitimasi rezim Orde Baru ikut ambruk.

Gerakan reformasi ingin mengembalikan demokrasi kepada rakyat. Muncullah SBY yang dianggap sebagai kampiun yang berhasil membangun fondasi demokrasi. 

Namun, kemudian demokrasi mengalami ketergerusan yang serius di era Jokowi. Seorang pemimpin yang lahir dari kalangan rakyat jelata ternyata punya bakat untuk menjadi pemimpin yang otoriter. Ada yang menyebut kepemimpinannya sebagai Neo-Orba.

Kepemimpinan Jokowi dilanjutkan oleh Prabowo dengan gaya demokrasinya sendiri. Ia menginginkan sebuah pemerintahan yang utuh tanpa ada oposisi. Prabowo ingin merangkul semua kekuatan menjadi satu. Ia bisa menjadi reinkarnasi dari model Orde Baru 4.0. 

Ia ingin mengembalikan pemilihan kepala daerah langsung kepada pemilihan oleh DPRD. Kalau uji coba itu berhasil, tidak mustahil pemilihan presiden pun kembali kepada DPR-MPR dan presiden kembali menjadi mandataris seperti era Orde Baru.

Itulah koridor sempit yang sekarang menjadi ujian bagi demokrasi di Indonesia. Kalau kita salah pilih, bisa jadi Indonesia terpeleset dan kembali menjadi mangsa ”Despotic Leviathan”. (*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: