Kebijakan nasional memberikan fondasi, pemerintah daerah memperluas akses dan kesempatan, sedangkan pendidikan karakter menjadi jiwa yang mengarahkan seluruh proses pendidikan.
Saya optimistis, apabila kolaborasi tersebut terus diperkuat, Surabaya tidak hanya akan dikenal sebagai Kota Pahlawan, tetapi juga menjadi kota pendidikan yang menjadi rujukan nasional.
Kota yang melahirkan generasi cerdas, berkarakter, inovatif, berdaya saing global, sekaligus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kepahlawanan, gotong royong, dan kemanusiaan.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukanlah berapa lama anak bersekolah, melainkan seberapa jauh pendidikan mampu mengubah kehidupan mereka.
Wajib belajar 13 tahun adalah fondasi, Beasiswa Pemuda Tangguh adalah jembatan, ”satu rumah satu sarjana” adalah tujuan, dan pendidikan karakter arek Suroboyo adalah ruhnya.
Apabila keempatnya berjalan beriringan, Surabaya akan makin layak menyandang predikat sebagai Kota Pahlawan sekaligus kota pendidikan, yang tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan generasi pemimpin masa depan bagi Indonesia. (*)
*) Sukma Sahadewa adalah anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya.