Membaca Fenomena Krisis Murid SD Negeri Berdasar Perspektif Kepercayaan Publik

Sabtu 18-07-2026,09:33 WIB
Oleh: Ulul Albab*

Sekolah yang mampu menghadirkan nilai-nilai itulah yang akan memperoleh kepercayaan masyarakat. Dan, ini yang perlu dicatat: kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam pelayanan publik. 

Ia tidak dapat dibeli dengan anggaran. Ia hanya dapat diperoleh melalui kualitas pelayanan yang dirasakan secara nyata.

Meski demikian, saya juga tidak sependapat apabila fenomena tersebut langsung disimpulkan sebagai kegagalan sekolah negeri. Kesimpulan seperti itu terlalu tergesa-gesa.

Kita tidak boleh melupakan bahwa Indonesia sedang mengalami perubahan demografi. Angka kelahiran mulai menurun di banyak daerah. Jumlah anak usia sekolah dasar ikut berkurang. 

Pada saat yang sama, pilihan pendidikan makin beragam. Mobilitas masyarakat meningkat. Informasi tentang kualitas sekolah menyebar sangat cepat melalui media sosial.

Artinya, sekolah-sekolah kita kini hidup dalam ruang yang jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Perubahan itu tidak dapat dihindari. Yang harus dilakukan adalah menyesuaikan diri.

Menurut saya, inilah momentum bagi sekolah negeriuntuk melakukan lompatan baru. Tetapi, perlu dicatat juga bahwa transformasi pendidikan tidak cukup hanya dimulai dari perubahan kurikulum. Yang jauh lebih penting adalah perubahan cara pandang.

Sekolah bukan hanya tempat mengajar. Sekolah adalah tempat membangun kepercayaan. Kepala sekolah bukan hanya administrator, melainkan juga pemimpin yang membentuk budaya. 

Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan juga pembangun karakter dan harapan. Dan, orang tua bukan sekedar pengguna layanan. Mereka adalah mitra strategis dalam pendidikan.

Jika seluruh unsur itu bertemu dalam satu ekosistem yang sehat, status negeri atau swasta tidak lagi menjadi penentu utama. Yang menjadi penentu adalah kualitas pengalaman belajar yang dirasakan setiap anak.

Saya percaya, sekolah negeri masih memiliki modal yang sangat besar. Jaringan yang luas, guru-guru yang berdedikasi, dukungan negara, serta sejarah panjang dalam membangun pendidikan bangsa. Semua itu merupakan kekuatan yang tidak dimiliki semua institusi.

Namun, modal saja tidak cukup. Kepercayaan harus terus dirawat. Sebab, masyarakat hari ini memilih bukan berdasarkan masa lalu, melainkan berdasarkan keyakinannya terhadap masa depan. Dan, di situlah sesungguhnya pelajaran serta tujuan terbesar dari fenomena tersebut. 

Yang sedang diuji bukan hanya kemampuan sekolah mencari murid. Tetapi, juga kemampuan negara menghadirkan pelayanan pendidikan yang terus relevan dengan perubahan harapan masyarakat. (*)

*) Ulul Albab adalah akademisi Universitas dr Soetomo dan penulis buku Pendidikan 2045.

 

Kategori :