Generasi Digital yang Kontrang-kantring

Selasa 21-07-2026,14:25 WIB
Oleh: Suko Widodo*

Karena itu, pendidikan masa depan tidak cukup hanya berbicara tentang literasi digital. Yang dibutuhkan adalah literasi masa depan; yang terdiri atas, pertama, literasi komunikasi. Yakni, kemampuan membangun kepercayaan, berkolaborasi, bernegosiasi, dan menyampaikan gagasan secara efektif. Di era AI, kemampuan manusia membangun relasi justru makin bernilai.

Kedua, literasi informasi. Yaitu, kemampuan memilah informasi yang kredibel, memahami cara kerja algoritma, dan mengenali bagaimana opini publik dibentuk.

Ketiga, literasi data. Yakni, kemampuan membaca data, mengenali pola, dan menggunakan bukti sebagai dasar pengambilan keputusan.

Keempat, future literacy. Yaitu, kemampuan membayangkan dan mempersiapkan perubahan sehingga seseorang tidak hanya bertanya pekerjaan apa yang tersedia hari ini, tetapi juga pekerjaan apa yang akan dibutuhkan lima atau sepuluh tahun mendatang.

Pada akhirnya, kecemasan generasi muda bukan semata persoalan individu, melainkan cermin sebuah negara mempersiapkan masa depan. Jika lulusan perguruan tinggi merasa harus berjuang sendiri membaca arah perubahan dunia kerja, ada sistem yang perlu diperbaiki. 

Jika generasi yang paling terkoneksi justru merasa paling kehilangan arah, masalahnya bukan kekurangan teknologi. Masalahnya adalah kekurangan orientasi.

Generasi muda perlu diberi ruang untuk tumbuh, bukan hanya diminta untuk selalu siap. Sebab, masa depan tidak boleh menjadi ruang gelap yang harus ditebak sendiri oleh anak muda. 

Mereka membutuhkan peta dan kompas. Mereka memerlukan informasi yang benar, komunikasi yang sehat, dan data yang dapat dipercaya. Jangan sampai generasi digital Indonesia yang seharusnya menjadi kekuatan terbesar bangsa justru berjalan kontrang-kantring di tengah zaman yang berubah cepat. (*)

*) Suko Widodo adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, dan ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI) Jawa Timur.

Kategori :