PADA 8 sampai 11 Juli 2026, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Diponegoro, Semarang, menjadi tuan rumah pertemuan tahunan dekan dan wakil dekan I fakultas ilmu budaya se-Indonesia.
Pertemuan itu sangat strategis karena membicarakan banyak hal tentang eksistensi fakultas ke depan dan kontribusinya pada pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya dalam bidang humaniora.
FIB Undip tidak hanya sukses menyelenggarakan pertemuan yang bersifat formal, tetapi juga mengajak seluruh peserta untuk menyelami sesuatu yang dahulunya bersifat sakral, kemudian mengalami transformasi menjadi sesuatu yang profan. Pengalaman berharga itu terwujud dalam perjalanan ke puncak Gunung Telomoyo dan Candi Gedong Songo.
Puncak Telomoyo terletak di perbatasan Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang. Dengan ketinggian sekitar 1.894 meter di atas permukaan laut, destinasi itu menyuguhkan pemandangan pegunungan yang indah, udara yang sejuk, serta pengalaman menikmati pemandangan dari atas awan tanpa harus melakukan pendakian yang berat.
Di balik semua itu, kisah gunung tersebut tersimpan dalam cerita rakyat dengan potongan kisah sebagai berikut: ” … Baro Klinting, seekor naga, anak dari Endang Sawitri, putri Kepala Desa Ngasem. Karena sebuah kutukan, Endang Sawitri harus mengandung dan melahirkan seorang anak berwujud naga seorang diri. Baro Klinting pun pergi ke Gunung Telomoyo untuk bertapa demi melepaskan diri dari kutukan sehingga dapat berubah wujud menjadi anak manusia pada umumnya. Ia bertapa dengan cara melilitkan tubuh naganya sampai ke puncak Gunung Telomoyo…” (Wahyuni, 2016).
PUNCAK Gunung Telomoyo.-Sarkawi B. Husain untuk Harian Disway-
Tentu cerita itu bukan sekadar cerita, tetapi di dalamnya mengandung makna seperti sikap pantang penyerah walaupun kita berhadapan dengan banyak hambatan. Lebih dari itu, puncak Gunung Telomoyo telah mengalami transformasi menjadi destinasi wisata yang menarik.
Dengan hanya merogoh 15.000 rupiah, pengunjung diantar dengan hip ke puncak. Waktu tempuhnya sekitar 30 menit.
Setelah tiba di puncak, pengunjung disuguhi pemandangan 360 derajat yang menampilkan deretan gunung seperti Merbabu, Andong, Sumbing, Sindoro, Ungaran, hingga Rawa Pening.
Saat pagi, hamparan kabut yang menyelimuti lembah menciptakan suasana seperti negeri di atas awan.
Saat-saat matahari memunculkan dirinya di balik ufuk timur merupakan waktu yang paling dinantikan karena langit perlahan berubah menjadi jingga keemasan, menghadirkan panorama yang sangat memosona.
Langit seolah dilukis oleh Sang Maha Agung dan kita pun berucap lirih ”Masya Allah, nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan”.
Candi Gedong Songo
Dalam catatan pada pilar 1 di kompleks candi, disebutkan bahwa Candi Gedong Songo dibangun pada abad ke-8 Masehi, yakni pada periode Kerajaan Mataram Kuno. Gedong Songo memiliki sembilan candi bercorak Hindu.
Penamaan Gedong Songo atau sembilan bangunan didasarkan atas cerita rakyat yang menceritakan berdirinya candi tersebut di lembah atau lereng Gunung Ungaran.