Bursa Transfer MotoGP: Ducati Lepas David Alonso ke Honda HRC

Jumat 24-07-2026,14:23 WIB
Reporter : Bagus Aji
Editor : Salman Muhiddin

HARIAN DISWAY - Keputusan Ducati membiarkan David Alonso berpaling ke pelukan Honda HRC bisa menjadi perjudian terbesar bos tim Ducati, Luigi Dall'Igna. Di balik kesuksesan mengamankan duet maut Marc Marquez dan Pedro Acosta untuk musim 2027, kebijakan ketat struktur gaji Borgo Panigale justru membuka celah bagi sang rival utama untuk mencuri "permata" paling berharga di paddock.

Deja vu kekeliruan melepas Fabio Quartararo pada 2019 kini membayangi Ducati, menegaskan bahwa di era baru mesin 850cc, perang sejati bukan hanya soal kecepatan di lintasan, melainkan adu jitu memikat calon penguasa masa depan.

Jika bursa transfer pembalap Ducati untuk musim 2027 diberi nilai, General Manager Ducati Corse, Luigi Dall’Igna, mungkin layak mengantongi skor 9,5 dari 10.

Komposisi mereka terbilang sangat mengerikan: Ducati Lenovo diisi oleh Marc Marquez dan Pedro Acosta; Gresini Racing diperkuat Joan Mir dan Daniel Holgado; sementara Pertamina Enduro VR46 Racing Team memplot Fermin Aldeguer serta kemungkinan besar Nicolo Bulega.

​Namun, ada satu nama besar yang luput dari genggaman: David Alonso. Kelalaian kecil ini berpotensi membayangi dan menghantui Ducati dalam beberapa tahun ke depan.

BACA JUGA:Resmi! Izan Guevara Jadi Pendamping Toprak Razgatlioglu di Pramac Racing MotoGP 2027

BACA JUGA:Geger Bursa Transfer MotoGP! Honda Resmi Rekrut Fabio Quartararo dan David Alonso

​Di satu sisi, Ducati sukses menyatukan sang legenda hidup MotoGP dengan sosok yang digadang-gadang sebagai penerus alaminya, Pedro Acosta. Meski begitu, Dall’Igna sebenarnya masih menyimpan impian lain.

​Sejak Januari lalu, Dall’Igna secara terbuka mengungkapkan kekagumannya terhadap talenta muda asal Kolombia tersebut.

Bagi Ducati, David Alonso memenuhi seluruh kriteria pembalap ideal: bakat alami yang luar biasa, kecerdasan di atas lintasan, kedewasaan, serta kecepatan murni.

Dall’Igna bahkan secara eksplisit menyatakan keinginannya untuk merekrut sang pembalap. Negosiasi sempat berjalan, namun pabrikan asal Borgo Panigale itu akhirnya terbentur benteng yang enggan mereka robohkan: kebijakan struktur gaji pembalap.


Luigi Dall'Igna, general manager Ducati Corse, terlihat sedang memantau kinerja pembalapnya saat k ualifikasi Q2 GP Thailand 2026.--Twitter Ruben Carballo @Ruben_DXT

​Celah tersebut dimanfaatkan dengan sigap oleh Honda Racing Corporation (HRC). Pabrikan asal Jepang itu langsung menyodorkan tawaran finansial yang sulit ditolak. Meski pabrikan Eropa saat ini mendominasi secara performa di lintasan, Honda dan Yamaha terbukti masih memiliki kekuatan finansial raksasa untuk memikat prospek terbaik di paddock.

​HRC menjadikan Alonso sebagai pilar utama dalam proyek jangka panjang era mesin 850cc. Tak sekadar tawaran kontrak bernilai fantastis, Honda juga memberikan "karpet merah" yang jarang didapatkan seorang rookie: dengan menduetkannya dengan Santi Hernandez, mekanik kawakan yang mengawal Marc Marquez meraih enam gelar juara dunia MotoGP.

​Pesan Honda sangat tegas: David Alonso bukan sekadar pembalap pemula, melainkan investasi strategis masa depan.

BACA JUGA:BMW Incar Brad Binder dan Jack Miller untuk WorldSBK, Siap Duetkan Lagi Eks KTM!

BACA JUGA:Cetak Biru HRC 2027: Membaca Ambisi Besar Honda di Balik Proyek Quartararo dan David Alonso

Namun, posisi Ducati pun tidak bisa disalahkan sepenuhnya. Dalam beberapa tahun terakhir, kesuksesan pabrikan Italia ini dibangun di atas filosofi finansial yang ketat: tidak pernah membiarkan pembalap mendikte kebijakan gaji tim.

Bahkan Marc Marquez sekalipun tidak menerima nilai kontrak fantastis seperti yang pernah ditawarkan Honda di masa kejayaannya. Sementara itu, perekrutan Pedro Acosta sendiri sudah menyentuh batas toleransi anggaran Borgo Panigale.

​Menuruti tuntutan finansial Alonso dikhawatirkan akan membuka "kotak Pandora" yang mengancam stabilitas keuangan seluruh proyek balap Ducati. Pada akhirnya, Dall’Igna harus memilih antara mempertahankan prinsip keuangan tim atau mempertaruhkan potensi emas sang pembalap muda.

​Skenario ini mengingatkan publik pada kasus Fabio Quartararo pada 2019 lalu. Kala itu, Ducati membiarkan talenta muda asal Prancis tersebut lepas, hingga akhirnya Quartararo merengkuh gelar juara dunia bersama sang rival, Yamaha.

Belum ada yang tahu pasti apakah Alonso akan mengikuti jejak sukses Marc Marquez, Acosta, atau Quartararo. Namun, satu hal yang disepakati seluruh paddock MotoGP: potensinya luar biasa, dan bukan tanpa alasan tiga pabrikan besar berebut tanda tangannya.

​Pada akhirnya, dinamika ini mengungkap satu hal penting. Persaingan di era 850cc mendatang bukan hanya duel antara Marc Marquez versus Acosta atau Ducati versus Aprilia, melainkan adu jitu antar-pabrikan dalam memikat calon juara dunia masa depan.

​Jika kelak David Alonso sukses meraih mahkota juara dunia MotoGP bersama Honda, manajemen Ducati mungkin tetap bisa membanggakan skuad mewahnya, namun tentu dengan sedikit rasa penyesalan. Sebab dalam bursa transfer yang hampir sempurna, pembalap yang gagal direkrut kerap menjadi sosok yang paling membekas dalam ingatan.(*) 

Kategori :