SUDAH sangat lama saya tak menyambangi kawasan SCBD (Sudirman Central Business Distric) Jakarta. Kawasan bisnis yang dekat dengan Bundaran Semanggi. Juga, dekat dengan kawasan komersial paling mahal di ibu kota itu.
Baru kemarin saya mengunjunginya. Sambil momong cucu bersama istri dan anak. Khususnya ke SCBD Park. Kawasan yang dahulu sering saya datangi hanya untuk makan siang. Sebab, di tempat itu ada restoran yang menjadi kesukaan saya.
Dulu ada restoran Manado yang enak di tempat tersebut. Karena lokasinya di tengah, gampang sekali untuk menjadi meeting point di Jakarta. Apalagi, sambil makan. Habis makan bisa bergeser di Pacific Place, mal yang nyaman untuk ngopi dan ngerumpi.
Eh, ternyata kawasan itu telah berubah total. Masih tetap menjadi jujukan tempat makan. Tapi, sudah dirombak sedemikian rupa. Menjadi kawasan yang tak hanya asyik untuk orang dewasa. Tapi, juga untuk anak-anak.
Selain ada playground alias tempat bermain, juga ada kebun binatang mini. Sayang, saya tidak sempat masuk. Sebab, datang masih di siang hari yang panas. Kebetulan sang cucu lebih memilih main di playground ketimbang nonton binatang.
Kawasan yang dulu berupa properti, tempat parkir, dan semak-semak itu kini berubah menjadi urban life yang nyaman dan hijau. Terintegrasi menjadi destinasi baru. Ada Habitat Park yang punya koleksi 100 satwa dari 42 spesies.
Satwa-satwa itu ditempatkan dalam lanskap taman modern yang menyatu dengan kawasan bisnis. Nuansanya lebih seperti urban wildlife park daripada kebun binatang konvensional. Menjadi tempat publik perkotaan yang bermartabat dan memiliki makna ekonomi sekaligus sosial.
Saya tak tahu ada berapa kawasan seperti itu di Jakarta. Namun, sebagai kota besar, ibu kota makin manusiawi dan berkualitas. ”Saya sekarang sudah menikmati naik angkutan umum gratis karena lansia,” kata Bagas Angkasa, petinggi BUMN yang sejak kecil tinggal di Jakarta.
Kalimat sederhana itu menyimpan makna mendalam. Ia menunjukkan bahwa kota mulai berpikir dari sudut pandang warganya. Sebab, ukuran kemajuan sebuah kota bukan hanya deretan gedung pencakar langit, jalan tol yang lebar, atau pusat-pusat bisnis yang megah.
Kota baru disebut maju ketika mampu membuat warganya merasa nyaman hidup di dalamnya. Mudah bergerak, leluasa berjalan kaki, dan memiliki ruang untuk bertemu, bercengkerama, dan bermain bersama keluarga. Juga, menikmati kehidupan tanpa selalu harus mengeluarkan biaya.
Pada titik itulah kota tidak lagi sekadar menjadi tempat bekerja. Tapi, benar-benar menjadi tempat tinggal yang memanusiakan penghuninya. Di sinilah ruang publik menemukan makna yang sesungguhnya.
Ruang publik bukan sekadar taman, hamparan rumput, atau deretan bangku yang dipasang di sudut kota. Ia adalah panggung tempat kehidupan sosial berlangsung. Tempat anak-anak berlarian mengejar tawa dan orang tua mengajak cucunya bermain.
Menjadi tempat komunitas berkumpul. Kaum muda berdiskusi. Lansia berolahraga. Dan, orang-orang yang tak saling mengenal saling menyapa tanpa direncanakan. Kota yang punya ruang publik yang baik sesungguhnya sedang merawat kohesi sosial warganya.
Sebaliknya, kota yang miskin ruang publik perlahan kehilangan ruang untuk membangun modal sosial. Warganya akan makin terkotak-kotak di rumah, apartemen, kantor, atau pusat-pusat perbelanjaan yang seluruh interaksinya ditentukan kemampuan bertransaksi.
Karena itu, saya melihat SCBD Park bukan semata proyek properti. Ia adalah contoh bagaimana investasi swasta dapat menghasilkan manfaat publik ketika berada dalam arah kebijakan kota yang benar.