HARIAN DISWAY - Menurut Atik Mardiyani, manager PLN ULP Indrapura, "Energi sejati bukanlah tentang daya, tetapi tentang keberanian mengubah luka menjadi cahaya."
Ya, kekuatan terbesar seseorang konon bukan terletak pada kekuasaan, tenaga, kecerdasan, atau pengaruh yang dimilikinya, tapi dari kemampuannya untuk "遇难成祥" (yù nán chéng xiáng): menjadikan musibah sebagai awal datangnya berkah.
Tentu, tidak setiap penderitaan dengan sendirinya berubah menjadi kebahagiaan. Namun, manusia memiliki kemampuan untuk memberi makna baru pada setiap cobaan yang dihadapinya. Kegagalan, misalnya, tidak harus berujung pada keputusasaan; ia dapat disulap menjadi pijakan menuju kedewasaan.
BACA JUGA:Cheng Yu Pilihan Editor Harian Disway: Yu Lan Er Wang
Pepatah Tiongkok mengatakan, "玉汝于成" (yù rǔ yú chéng): penderitaan merupakan sarana untuk menempa manusia menjadi pribadi yang matang dan bernilai, sebagaimana batu giok diasah hingga menjadi permata.
Anda sudah tahu, batu giok yang indah tidak lahir begitu saja. Ia harus dipotong, diasah, dan dipoles melalui proses yang panjang sebelum memancarkan kilau terbaiknya.
Demikian pula manusia. Karakter yang kokoh tidak dibentuk oleh kenyamanan, melainkan oleh kesediaan untuk bertahan dan terus belajar di tengah kesulitan. Sebagaimana yang pepatah Jepang ajarkan, "七転び八起き" (nana korobi ya oki): jatuh tujuh kali, bangkit delapan kali. (*)