Harga Minyak Masih Tinggi, Ekonomi Global Dibayangi Inflasi dan Perlambatan

Harga Minyak Masih Tinggi, Ekonomi Global Dibayangi Inflasi dan Perlambatan

Harga Brent oil berada di sekitar USD98 per barel pada Kamis, 1 Oktober 2026.-nanobanana-Gemini

HARIAN DISWAY – Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan Kamis, 1 Oktober 2026. Namun, stabilnya harga tersebut belum sepenuhnya menghilangkan risiko terhadap perekonomian global karena pasar masih menghadapi ketidakpastian pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Reuters melaporkan harga Brent berada di sekitar USD98 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di kisaran USD90 per barel pada perdagangan awal Asia. Brent sebelumnya mencatat kenaikan sekitar 14 persen sepanjang September, sedangkan WTI menguat sekitar 5 persen.

Pergerakan harga minyak kini dipengaruhi dua sentimen yang berlawanan. Di satu sisi, pembicaraan damai Amerika Serikat (AS) dan Iran dapat membuka peluang pemulihan aliran energi. Di sisi lain, ketidakpastian negosiasi dan gangguan ekspor dari kawasan Teluk masih membuat pelaku pasar memperhitungkan risiko pasokan.

Inflasi Jadi Risiko Utama

Kenaikan harga energi dapat memberikan tekanan langsung terhadap biaya transportasi, produksi, dan distribusi barang. Jika harga minyak tinggi bertahan dalam waktu lama, tekanan tersebut dapat merambat ke harga berbagai barang dan jasa.

Dana Moneter Internasional (IMF) sebelumnya memperkirakan bahwa setiap kenaikan harga minyak sebesar 10 persen yang berlangsung secara persisten dapat meningkatkan inflasi global sekitar 0,4 poin persentase dan menekan output global sekitar 0,1–0,2 persen. IMF menekankan bahwa dampak aktual sangat bergantung pada durasi dan intensitas gangguan pasokan.

BACA JUGA:Lonjakan Harga Minyak dan El Nino Bikin Rupiah Loyo, Bisa Sentuh Rp18.200

BACA JUGA:Indeks Dolar dan Minyak Dunia Bergejolak, Harga Emas dan Logam Mulia Diproyeksi Menguat Pekan Ini

Kondisi tersebut menjadi perhatian bagi bank sentral. Inflasi yang kembali meningkat dapat membuat ruang untuk pelonggaran kebijakan moneter menjadi lebih terbatas, terutama jika kenaikan harga energi mulai memengaruhi ekspektasi inflasi dan harga barang lainnya.

Pertumbuhan Ekonomi Terancam Melambat

Dampak kenaikan harga minyak tidak hanya dirasakan konsumen. Perusahaan yang menggunakan bahan bakar dalam jumlah besar juga menghadapi kenaikan biaya operasional.

Industri transportasi, manufaktur, logistik, dan sektor yang bergantung pada produk petrokimia dapat terkena dampak ketika harga energi meningkat. Jika biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, daya beli rumah tangga dapat ikut tertekan.

International Energy Agency (IEA) memperkirakan permintaan minyak dunia pada 2026 turun 2,5 juta barel per hari. IEA mengaitkan penurunan tersebut antara lain dengan gangguan berkepanjangan di Timur Tengah dan tingginya harga produk minyak, terutama diesel.

IEA juga mencatat produksi minyak global turun 1,6 juta barel per hari secara bulanan pada Agustus menjadi 100,1 juta barel per hari. Lebih dari 10 juta barel per hari produksi minyak kawasan Teluk sempat terdampak gangguan keamanan.

BACA JUGA:Oman Tunda Pembicaraan Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam

BACA JUGA:Harga Emas Dunia Tertekan, Minyak WTI Diprediksi Tembus USD90 Pekan Depan

Dampaknya Berbeda bagi Tiap Negara

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: