Peran Ayah, LGBT, dan Ancaman Nonmiliter

Rabu 05-08-2026,17:21 WIB
Oleh: Hisnindarsyah*

Tidak semua informasi yang diterima anak bertentangan dengan nilai bangsa, tetapi tidak semuanya pula sejalan dengan nilai agama, budaya, maupun karakter Indonesia. 

Oleh karena itu, anak membutuhkan figur yang mampu menjadi kompas moral dalam menghadapi derasnya arus informasi tersebut.

Ketika seorang anak kehilangan figur ayah, ibu, atau bahkan keduanya, ia cenderung mencari tempat untuk memperoleh perhatian, penerimaan, dan kasih sayang di luar rumah. Pencarian tersebut dapat terjadi melalui teman sebaya, komunitas, media sosial, maupun berbagai lingkungan pergaulan lainnya. 

Dalam situasi tertentu, anak dapat lebih mudah terpengaruh oleh nilai, gaya hidup, atau cara pandang yang berkembang, termasuk diskursus mengenai identitas dan orientasi seksual yang kini makin luas hadir di ruang digital. 

Karena itu, penguatan peran ayah dan ibu bukan dimaksudkan untuk menyederhanakan fenomena LGBT sebagai akibat tunggal dari pola pengasuhan, melainkan sebagai upaya memperkuat ketahanan emosional anak, agar ia tidak mencari pengganti figur keluarga tanpa pendampingan dan nilai yang jelas.

Peran Strategis Ayah

Di sinilah peran ayah menjadi sangat strategis. Ayah bukan sekadar pencari nafkah, melainkan juga pemimpin keluarga yang bertugas membangun karakter, keberanian, kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas anak. 

Kehadiran ayah memberikan ruang dialog yang sehat sehingga anak memiliki tempat bertanya ketika menghadapi berbagai persoalan perkembangan, termasuk isu-isu sensitif yang kini banyak beredar di media digital. 

Anak yang memiliki hubungan emosional yang kuat dengan ayah cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan kegelisahan, lebih percaya kepada keluarganya, serta tidak mudah mencari jawaban dari sumber-sumber yang belum tentu dapat dipertanggungjawabkan.

Memang harus diakui bahwa hingga saat ini para ilmuwan belum menyimpulkan bahwa orientasi seksual seseorang ditentukan oleh satu faktor tertentu, termasuk pola pengasuhan atau keberadaan figur ayah. 

Perkembangan manusia jauh lebih kompleks daripada sekadar hubungan sebab-akibat yang sederhana. 

Meski demikian, berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan berkaitan dengan perkembangan psikososial yang lebih baik, komunikasi keluarga yang lebih harmonis, kemampuan mengendalikan emosi yang lebih matang, dan lebih rendahnya berbagai perilaku berisiko pada anak dan remaja. 

Oleh karena itu, memperkuat peran ayah tetap merupakan salah satu strategi penting dalam membangun ketahanan keluarga menghadapi berbagai tantangan sosial yang terus berkembang.

Bagi keluarga prajurit TNI, tantangan tersebut menjadi makin kompleks karena karakteristik profesi militer yang menuntut mobilitas tinggi. Penempatan tugas di berbagai wilayah sering kali menyebabkan ayah harus tinggal terpisah dari keluarga dalam waktu yang panjang. 

Oleh sebab itu, setiap keputusan mutasi prajurit hendaknya tidak hanya mempertimbangkan karier kedinasan ataupun kualitas sekolah, tetapi juga mempertimbangkan keberlangsungan pengasuhan. 

Selama kondisi memungkinkan, perpindahan tugas sebaiknya diikuti dengan perpindahan istri dan anak.

Kategori :