Public Speaking: Soft Skill yang Tak Lagi Bisa Diabaikan

Rabu 05-08-2026,18:25 WIB
Oleh: M. Azka Haqqani & Yuni Sari A.*

Setiap orang harus melanjutkan cerita dari peserta sebelumnya tanpa persiapan panjang. Aktivitas itu melatih fokus, keberanian mengambil keputusan, kreativitas, kemampuan mendengarkan, dan keterampilan menjaga alur pembicaraan.

Kami juga diajak mengidentifikasi kesalahan umum, seperti terlalu bergantung pada catatan, menghindari kontak mata, berbicara terlalu cepat, menggunakan gerakan tangan yang tidak terarah, atau menyampaikan banyak informasi tanpa inti pesan yang jelas.

Setelah berdiskusi, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya. Kami belajar bahwa public speaking bukan tentang tampil sempurna, melainkan menyadari kebiasaan yang menghambat pesan dan memperbaikinya secara bertahap.

Salah satu metode yang diperkenalkan adalah SHEPHe(a)rd: stance, hands, eyes, point, dan heard. Kami berlatih menjaga postur, menggunakan tangan secara wajar, membangun kontak mata, mengawali dan mengakhiri pembicaraan dengan poin utama, serta memastikan suara terdengar jelas.

Fasilitator memperagakan presentasi yang sengaja dipenuhi kesalahan. Kami diminta mengamati, menyebutkan masalahnya, dan menawarkan perbaikan. Cara itu membuat teori mudah dipahami karena kami melihat perbedaan antara sekadar berbicara dan berkomunikasi secara efektif.

Tantangan berikutnya adalah impromptu speaking. Kami harus menjawab pertanyaan secara spontan tanpa naskah. Pada awalnya, beberapa dari kami gugup dan membutuhkan waktu merangkai jawaban.

Namun, suasana suportif membuat kami berani mencoba. Para volunter memberikan umpan balik mengenai struktur jawaban, intonasi, bahasa tubuh, kontak mata, dan cara mengelola jeda. Masukan disampaikan secara konstruktif sehingga kami merasa aman untuk belajar.

Kekuatan Kaya Toastmasters juga terletak pada volunter dengan latar belakang beragam. Di antara mereka terdapat Santi Indriyani Sceresini, personal empowerment, self-love, and confidence coach, pembicara, serta penulis buku Unstuck.

Kehadirannya memperlihatkan bahwa komunikasi berkaitan dengan keberanian mengenali diri, mengatasi rasa takut, dan membantu orang lain bergerak maju. Volunter lainnya membawa pengalaman dari dunia bisnis, organisasi, pendidikan, dan profesi sehingga latihan terasa relevan bagi berbagai kebutuhan peserta.

Bagi mahasiswa, manfaat public speaking sangat luas. Keterampilan itu membantu kami menyampaikan pendapat dalam diskusi kelas, mempresentasikan penelitian, menghadapi sidang tugas akhir, mengikuti wawancara beasiswa, memimpin organisasi, melakukan pitching ide, dan membangun jejaring internasional.

Gagasan yang baik tetap membutuhkan komunikasi agar dapat dipahami dan dipercaya. Dalam konteks akademik, dosen dan peneliti memerlukan keterampilan serupa ketika mengajar, mempresentasikan temuan di konferensi, menjelaskan riset kepada masyarakat, atau membangun kolaborasi lintas institusi.

Bagi profesional, public speaking berguna saat memimpin rapat, bernegosiasi, menyampaikan laporan, memberikan pelatihan, menangani klien, dan menjelaskan keputusan kepada tim.

Bahkan, dalam percakapan sehari-hari, kemampuan mendengarkan, memilih kata, membaca respons audiens, dan menyampaikan pesan secara terstruktur dapat mencegah salah paham serta memperkuat hubungan kerja.

Pada akhir kegiatan, kami kembali melakukan permainan cerita spontan. Perbedaannya terasa jelas. Kami lebih berani, lebih cepat merespons, dan lebih mampu menjaga alur cerita. Perubahan itu mungkin terlihat kecil, tetapi sangat bermakna.

Kami membuktikan bahwa percaya diri tidak selalu muncul sebelum seseorang berbicara; sering kali ia tumbuh setelah berani mencoba, menerima masukan, dan berlatih kembali.

Belajar bersama Kaya Toastmasters memberikan kesan sangat positif bagi peserta BBK 8 internasional. Kegiatan itu mempertemukan pembelajaran akademik dengan pengalaman komunitas, sekaligus menunjukkan bahwa internasionalisasi tidak hanya berlangsung di ruang kuliah.

Kategori :