Di pilpres periode kedua, saat SBY dan Jokowi sebagai petahana, mereka bebas memilih wapres. Karena sudah kuat posisinya. Sudah menguasai medan. SBY memilih Boediono yang jauh dari hitungan para politikus. SBY sudah tak memikirkan lagi berapa sumbangan suara dari pasangannya itu.
BACA JUGA:CLS dan Ijazah Jokowi
BACA JUGA:Jokowi Harus Hadir di Pengadilan Ijazah Palsu
Jokowi juga mengganti wakilnya dalam hitungan jam sebelum mendaftar ke KPU. Sebagai petahana, ia tidak lagi utak-atik menghitung elektabilitas cawapresnya.
Prabowo apakah akan memilih pola SBY dan Jokowi. Ganti wakil.
Orang semua sudah tahu, presiden petahana di Indonesia sangat menentukan arah pilpres. Walau dihujani kritik. Banjir protes. Petahana tetap sulit dikalahkan.
Di negeri ini, pemenang pilpres tidak ditentukan capres yang paling ramai kampanye. Banyak faktor yang menentukan pemenangnya. Siapa yang mengendalikan aparat negara, itu juga ikut menentukan. Siapa yang bisa mengarahkan kepala daerah dan kades, itu juga faktor penting.
BACA JUGA:Rumah Jokowi
BACA JUGA:Monolog Gibran dan Roleplay Jokowi
Namun, mengapa Megawati Soekarnoputri sebagai petahana 2004 bisa dikalahkan SBY. Menurut kesaksian JK, Megawati tidak mau memanfaatkan alat negara.
Prabowo sudah merasakan tidak bisa menang bila tak ”direstui” presiden petahana. Sebab itulah, menjelang Pilpres 2024, ia bolak-balik ke Solo. Meminta restu sekaligus menyepakati Gibran sebagai garansi.
Kini sebagai petahana. Yang mengangkat mendagri, menkeu, menkum, kapolri, panglima, jaksa agung, serta ketua KPU dan Bawaslu. Semuanya berada di tangan Prabowo. Artinya, kekuatan Prabowo sangat kuat (dengan catatan kalau mau memanfaatkannya).
Prabowo sekarang bebas menentukan wakilnya. Apalagi, di sekitar Prabowo banyak politikus ”kancil” yang bisa memengaruhi peta cawapres. Juga, ada kader Gerindra yang bisa memberikan dampak elektabilitas seperti KDM yang memimpin elektabilitas di survei.
BACA JUGA:Ijazah Jokowi dan Streisand Effect
BACA JUGA:Adili Jokowi
Sementara itu, Gibran juga belum terlihat memberikan gebrakan yang gubrakkk. Masih dibayang-bayangi isu masa lalu, yakni rekayasa konstitusi di MK.