Hipersemiotika mengingatkan bahwa ketika simbol kebangsaan terus dipertontonkan tanpa diikuti praktik pemerintahan yang mencerminkan nilai-nilai keadilan, demokrasi, atau kesejahteraan, akan muncul jarak antara citra dan realitas.
Simbol hanya hadir dalam ruang visual, tetapi kehilangan daya representasinya terhadap pengalaman warga.
Dalam situasi seperti itu, tindakan-tindakan simbolis, termasuk cara masyarakat menggunakan atau menafsirkan bendera, dapat dipahami sebagai upaya merebut kembali makna simbol dari dominasi narasi resmi.
Semiotika ekstrem bahkan mengaitkan segala sesuatu yang dapat digunakan untuk mengatakan sesuatu yang tidak selalu sesuai dengan kenyataan.
Gagasan itu disebut sebagai teori dusta atau theory of lies. Bahwa tanda memiliki kemungkinan untuk digunakan secara manipulatif karena hubungan antara tanda dan realitas selalu dimediasi oleh interpretasi.
Kalau negara berbohong kepada rakyatnya, rakyat mempunyai hak untuk berbohong kepada negara. Pemasangan bendera setengah tiang adalah ekspresi dari protes rakyat yang membalas kebohongan penguasa. (*)