Mahasiswa dan Jebakan Budaya Pasar

Sabtu 08-08-2026,22:23 WIB
Oleh: Arya Wanda Wirayuda*

HIRUK PIKUK dunia mahasiswa beberapa bulan terakhir terasa hangat. Jalan raya menjadi altar intelektual dan emosional. Sejumlah kebijakan pemerintah jadi sasaran. Sekilas tidak jadi masalah. Namun, itu menjadi momentum sekaligus test case bukti pengaderan di masing-masing organisasi, terutama dalam menyambut mahasiswa baru: apakah selalu mengulang pemikiran dan tradisi yang sama. 

Kita masih ingat demonstrasi Agustus tahun lalu yang berakhir rusuh. Bulan yang semestinya manis menjadi permulaan mahasiswa baru mengenal kehidupan kampus justru harus mengetahui ratusan senior atau rekan mereka ditangkap. Sebagian besar bingung tentang kesalahan mereka. 

Sebagian di antaranya masih berusaha membela diri meski pada gilirannya lebih banyak gagal. Kontroversial memang karena pengorbanan mereka terkadang terasa sia-sia. Waktu dan energi terbuang. Mungkin perasaan kecewa orang tua mereka dan sindiran tetangga lebih besar. 

Pola itu mungkin akan masih dipratikkan. Panitia orientasi mahasiswa baru sedang melakukan persiapan akhir. Beberapa di antaranya bisa dipastikan mengangkat isu gerakan sosial. Keresahan mereka bahkan berpotensi lebih membesar terinspirasi oleh Angkatan ’66, Reformasi 1998, dan kegagalan sejumlah demonstrasi mahasiswa beberapa bulan terakhir. 

BACA JUGA:Menyoal Gerakan Mahasiswa dan Solusinya

BACA JUGA:Menghitung Harga Sebuah Demonstrasi Mahasiswa

Mahasiswa baru menjadi sumber massa terbesar di kalangan demonstran mendatang. Agustus tahun ini bukan tidak mungkin demonstrasi makin besar. Terlebih, pemerintah sering diasosiasikan sebagai pelaku praktik otoritarian sehingga rentan terhadap kristalisasi gerakan yang lebih masif.

Budaya Pasar

Gerakan mahasiswa hari ini mudah terstimulasi isu politik. Tidak salah, bahkan penting memang. Akan tetapi, beberapa pola justru mempertotonkan seperti aktivitas pasar; serba-transaksional, baik profit maupun benefit. Budaya pasar yang menekankan kepada persaingan dan keuntungan secara an sich memperoleh inang strategisnya. 

Dalam sosial budaya, budaya itu merujuk kepada standar nilai yang berintegrasi dengan kegiatan ekonomi. Profit yang diwakili julukan mahasewa oleh para netizen, sementara benefit tidak lebih dari sekadar pamer di media sosial dan curriculum vitae untuk mem-branding diri sendiri dan organisasinya. 

Alhasil, ide mahasiswa terkadang tidak lagi konstruktif. Sebagian juga replika atau fabrifikasi. Mungkin di antaranya juga merupakan ”titipan” kelompok politis. Terasa klise. Dengan demikian, mereka sering kali tidak direspons pemerintah, bahkan melakukan serangan balik. 

BACA JUGA:Kampus Berdampak dan Tuntutan Mahasiswa Berprestasi

BACA JUGA:Ketika Mahasiswa Menjadi Penonton Mutu

Mereka juga sinis terhadap kelompok study oriented, apatis, dan hedon. Akan tetapi, mereka tidak jujur bahwa sudah terjebak euforia terhadap faktor tunggal perubahan rezim adalah demonstrasi mahasiswa. 

Hal itu justru makin memvalidasi kebiasaan bertransaksi itu. Buktinya, sejumlah kebijakan, bahkan sejak era otoritarianisme Orde Baru, tak mampu memotong tradisi pemikiran tersebut.

Kategori :