Rehabilitasi Pascabencana di NTT

Rabu 19-08-2026,19:41 WIB
Oleh: Bagong Suyanto*

Bencana di wilayah mana pun senantiasa meninggalkan jejak luka, duka, dan kerugian. Namun, sekeras apa pun bencana itu menyergap kita, masyarakat seyogianya tidak menyerah. Masyarakat korban bencana harus bangkit dan memperbaiki diri menyongsong kehidupan yang lebih baik. 

Prinsip itulah yang harus dikembangkan di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang baru saja ditimpa bencana berupa gempa bumi 7,7 skala Richter. 

Menurut data BNPB tanggal 17 Agustus 2026, jumlah korban meninggal dunia tercatat 68 orang, sedangkan 213 lainnya mengalami luka-luka. Sebanyak 253 sekolah dilaporkan rusak. Jumlah korban meninggal bukan tidak mungkin bertambah. 

BNPB dilaporkan masih terus melakukan pemutakhiran data seiring berlangsungnya proses pencarian, evakuasi, dan penanganan korban di sejumlah wilayah di tujuh wilayah kabupaten yang terdampak bencana. 

BACA JUGA:BMKG Catat 2.768 Gempa Susulan di NTT, Peluruhan Diperkirakan 3-4 Minggu

BACA JUGA:253 Ton Logistik Didistribusikan ke NTT, BAZNAS Ende Apresiasi Respon Pemerintah Pusat

Hingga kini, aktivitas gempa susulan masih terjadi. BNPB mencatat, paling tidak telah terjadi 1.576 kali gempa susulan dengan magnitudo maksimal mencapai 6,21.

Tanggap Bencana

Penanganan pascabencana di NTT harus diakui bukan hal yang mudah. Pemerintah saat ini telah mengembangkan langkah penanganan yang cepat dan berkesinambungan. Pemerintah pusat dan daerah saat ini memprioritaskan pemulihan infrastruktur dasar, pembukaan akses jalan, serta dukungan psikososial dan ekonomi. 

Tujuannya tidak sekadar membangun ulang daerah dan masyarakat korban bencana, tetapi juga menciptakan wilayah yang lebih tangguh terhadap bencana di masa depan.

Universitas Airlangga (Unair) sebagai salah satu perguruan tinggi (PT) di Indonesia, bersama-sama PT lain, telah mengirimkan tim untuk membantu penanganan pasca terjadinya bencana. Unair dilaporkan telah mengirim tim aju tanggap darurat dari Garda Ksatria Airlangga untuk aksi kemanusiaan ke NTT, Senin, 17 Agustus lalu. 

BACA JUGA:Pakar ITS Tekankan Kewaspadaan Gempa Susulan di NTT

BACA JUGA:Kemenhub Pastikan Bandara di Flores Tetap Layani Penerbangan Usai Gempa NTT

Tim yang dikirim bertugas mengidentifikasi kondisi lapangan, memetakan kebutuhan medis, dan membantu penanganan korban pada fase akut pascagempa. Seperti dikatakan Rektor Prof Muhammad Madyan, Unair memiliki tanggung jawab untuk turut hadir memberikan manfaat bagi masyarakat dalam situasi kebencanaan, termasuk di NTT. 

Bencana yang terjadi di NTT sebetulnya bukan hal baru. Kita tentu masih ingat, tahun 1992 NTT juga pernah diguncang gempa bumi dahsyat magnitudo 7,8 yang terjadi di Laut Flores dan memicu tsunami setinggi hingga 25 meter. Gempa dahsyat itu menewaskan 2.500 jiwa di Sikka, Ende, Ngada, dan Flores Timur. 

Kategori :