Musashi kemudian berjalan santai menuju Kojiro. Tanpa memedulikan keluhan lawannya mengenai keterlambatan.
Sikap tersebut membuat Kojiro semakin marah. Kojiro mencabut pedangnya dan melancarkan serangan ke arah tengah dahi Musashi.
Pada saat yang sama, Musashi mengayunkan pedang kayunya. Lalu berhasil menghantam kepala Kojiro.
Kojiro jatuh di tempat. Ujung pedangnya sempat memotong simpul hachimaki Musashi. Hingga sapu tangan tersebut jatuh ke tanah.
BACA JUGA:Ragam Jenis, Tata Cara, dan Filosofi Dupa dalam Tradisi Tionghoa
Tetapi pedang kayu Musashi tepat mengenai kepala Kojiro. Musashi kemudian memberikan satu serangan terakhir. Ia pun mengalahkan Demon of the Western Provinces.
Duel tersebut menjadi pertarungan terbesar dalam hidupnya. Bahkan masih dibicarakan lebih dari 400 tahun kemudian.
Kisah duel tersebut sering dibahas. Terutama pelajaran dari sisi perang psikologis Musashi terhadap Kojiro.
Namun, ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Yakni kesediaan Musashi menghadapi risiko nyata dalam duel itu.
BACA JUGA:Usung Tenun Gedog Tuban dan Filosofi Koma, Uzzaer Ruwaidah Pamer Karya di Wisma Jerman
BACA JUGA:Bagua Zhang, Filosofi Seni Bela Diri dari Tiongkok yang Mengalir Seperti Naga
Hachimaki Musashi terkena ujung pedang Kojiro. Dengan kata lain, Musashi pun tak luput dari risiko kehilangan nyawa.
Pedang Kojiro hanya berjarak beberapa sentimeter dari kepalanya. Kurang sedikit saja, Musashi bisa tewas.
Tapi timing, kemampuan membaca jarak, dan intuisi. Itulah yang berperan. Musashi berhasil menghindarkan diri dari tebasan tersebut.
Namun, kemenangan itu tidak semata-mata dapat dijelaskan melalui perhitungan rasional. Musashi membahas hal tersebut dalam The Book of Five Rings.