BACA JUGA:Mengenal Filosofi Kain Tradisional Indonesia: dari Batik, Tenun, hingga Lurik
BACA JUGA:5 Anime dengan Kisah Kompleks dan Tema Filosofis
Setelah menjalani latihan dan mengembangkan kemampuan, seorang pendekar tetap harus menerima kenyataan. Bahwa hasil akhir tidak pernah sepenuhnya dapat dikendalikan.
"Secara umum, Jalan seorang pejuang adalah penerimaan yang teguh terhadap kematian," tulis Musashi dalam The Book of Five Rings.
Gagasan serupa juga terdapat dalam Hagakure, teks samurai yang ditulis Yamamoto Tsunetomo. "Jalan seorang pejuang adalah menyadari bahwa Anda tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya," tulisnya.
Pesan dari karya-karya tersebut tidak hanya relevan bagi orang yang memegang pedang. Kehidupan dalam banyak hal juga merupakan medan pertempuran.
Hachimaki, ikat kepala khas Jepang yang digunakan Miyamoto Musashi saat berduel dengan Kojiro.-Recovering Overthinker-Existential Espresso
BACA JUGA:Filosofi Lagom, Gaya Hidup Seimbang ala Swedia untuk Kualitas Hidup Lebih Baik
BACA JUGA:Stoicis, Filosofi Populer yang Banyak Disalahpahami
Sehingga pengalaman seorang pejuang seperti Musashi sangat berharga. Itu dapat menjadi sumber pelajaran bagi siapa pun.
Tidak ada persiapan dan analisis yang dapat menjamin hasil yang diinginkan. Prinsip tersebut berlaku bagi pendekar yang menghadapi duel.
Juga berlaku untuk orang kreatif yang ingin membagikan karyanya. Pun, seseorang yang sekadar ingin mengajak orang lain berkencan.
Ketika waktunya bertindak tiba, kegagalan yang sebenarnya adalah mundur dari tantangan. Maka, seseorang harus berani menghadapi risiko penolakan.
BACA JUGA:Batik Lurik: Sejarah, Makna dan Filosofi, serta Jenisnya
BACA JUGA:Wong Liyo Ngerti Opo: Filosofi Stoikisme ala Daniel Spid yang Mengguncang TikTok
Risiko mendapat penilaian dari orang lain, kegagalan, bahkan patah hati untuk mendapatkan sesuatu yang benar-benar diinginkan.