ADA cerita yang dikisahkan langsung dari drg. Vitria Dewi, direktur RSD Prof. Dr. Moeljono –yang dahulu dikenal sebagai RS Jiwa Menur, Surabaya– yang membuat saya lama berpikir. Pada suatu hari kerja, secara bersamaan ada empat anak muda yang mencoba bunuh diri. Mereka kemudian dirawat di rumah sakit berbeda. Mereka kebetulan mahasiwa. Tiga di antaranya laki-laki. Empat orang dalam satu hari.
Menurut Vitria, biasanya percobaan bunuh diri itu dilakukan Sabtu malam dan seminggu satu kasus. Kali ini bersmaan dan bukan Sabtu malam. Sabtu malam, mungkin karena korban diputus cintanya, ujar Bu Vitri.
Peristiwa tersebut tentu tidak cukup untuk dijadikan kesimpulan umum. Namun, ia menjadi alarm ketika dibaca bersama data yang lebih luas. Data RSD Prof. Dr. Moeljono menunjukkan jumlah pasien kesehatan mental remaja mencapai 11.088 orang pada 2024, lalu meningkat menjadi 11.269 orang pada 2025.
BACA JUGA:Kontrang-kantring di Era Digital: Siapa Yang Menuntun Generasi Muda?
BACA JUGA:Komunikasi Simbiotik dan Kedaulatan Buruh di Era Digital
Kenaikannya memang tidak dramatis. Tetapi, ada angka lain yang jauh lebih mencolok: kasus yang berkaitan dengan kecanduan game online meningkat dari 109 kasus pada 2024 menjadi 360 kasus pada 2025. Lebih dari tiga kali lipat hanya dalam setahun.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar: apa yang sedang terjadi pada generasi muda kita? Pertanyaan yang lebih penting: apa yang sedang terjadi dengan cara kita hidup bersama mereka?
Ketika Gawai Menjadi Dunia
Ada kisah lain yang diceritakan salah seorang asisten Vitria. Seorang remaja perempuan dibawa ibunya untuk menjalani perawatan. Sebelumnya, dia sampai menjual barang berharga milik orang tuanya demi memperoleh telepon seluler terbaru.
Setelah menjalani perawatan, kondisinya membaik. Tetapi, muncul sesuatu yang lebih menyedihkan: ketika dinyatakan dapat pulang, anak itu justru tidak ingin kembali ke rumah. Ia merasa lebih nyaman berada di rumah sakit daripada bertemu ibunya.
BACA JUGA:Kerinduan Fisik di Era Digital
BACA JUGA:Berhala di Era Digital
Bagi saya, persoalan terbesarnya bukan harga telepon genggam. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika benda menjadi lebih diinginkan daripada relasi dan rumah tidak lagi dirasakan sebagai tempat paling aman untuk pulang.
Gawai bukanlah penyebab tunggal depresi, kecemasan, kecanduan, ataupun percobaan bunuh diri. Kehidupan manusia terlalu kompleks untuk direduksi pada satu sebab. Ada tekanan akademik, konflik keluarga, perundungan, persoalan ekonomi, relasi personal, kesepian, serta ketidakpastian masa depan.
Namun, penggunaan digital yang berlebihan dapat memperkuat kerentanan yang sudah ada. Gawai menyediakan pelarian yang selalu tersedia.