Nestapa Himalaya, Peringatan Nyata Nusantara

Rabu 02-09-2026,06:33 WIB
Oleh: Hery Purnobasuki*

Pemanasan atmosfer bukanlah fenomena yang jatuh dari langit secara tiba-tiba, melainkan hasil akumulasi emisi karbon, deforestasi global, dan eksploitasi energi fosil selama berabad-abad sejak era revolusi industri. 

Aktivitas antropogenik telah mengubah komposisi kimia atmosfer dan menaikkan suhu global ke tingkat yang paling kritis dalam sejarah modern.

Di kawasan pegunungan tinggi, eksploitasi bentang alam demi ambisi pembangunan sering kali mengabaikan daya dukung lingkungan. 

BACA JUGA:Banjir Bandang Nepal-Tiongkok Dipicu Runtuhnya Gletser, 168 Tewas dan 1.384 Orang Hilang

BACA JUGA:Kemenlu Pastikan WNI di Nepal Aman Usai Kerusuhan Demo

Pembangunan infrastruktur berskala besar, pemotongan lereng terjal tanpa analisis geoteknik yang memadai, dan masifnya proyek rekayasa hidroelektrik telah melemahkan stabilitas geologis lereng-lereng muda Himalaya. 

Alam yang semula memiliki mekanisme pertahanan alaminya sendiri dipaksa tunduk pada kalkulasi ekonomi jangka pendek. Ketika kapasitas toleransi alam terlampaui, respons balik yang dihadirkan bukanlah kompromi, melainkan pemulihan paksa melalui bencana katastropik. 

Kemarahan alam sejatinya adalah istilah metaforis untuk mendeskripsikan momen saat bumi mereset keseimbangannya sendiri setelah dirusak secara ugal-ugalan oleh keserakahan manusia. 

Menatap Cermin Kerentanan Nusantara

Tragedi di atap dunia seharusnya membuat bangsa Indonesia terhenyak dan becermin secara mendalam. Indonesia dan kawasan Himalaya memang memiliki bentang geografis yang berbeda. Yang satu didominasi bentang kepulauan tropis dan vulkanik, sedangkan yang lain didominasi lanskap pegunungan salju abadi. 

Namun, pola perusakan dan hukum kausalitas ekologisnya persis sama. Jika Himalaya dihantui oleh mencairnya gletser dan danau morain yang pecah, Indonesia terus-menerus dirongrong oleh deforestasi hutan tropis primer, degradasi daerah aliran sungai, dan alih fungsi kawasan resapan air menjadi perkebunan monokultur atau pertambangan terbuka.

Pegunungan dan perbukitan di berbagai pulau besar Indonesia kerap kali diperlakukan sekadar sebagai komoditas ekstraksi. Lereng-lereng curam dikeruk, tutupan vegetasi berakar dalam ditebang habis, dan jalur air alami dialihkan secara sembrono. 

Akibatnya, setiap kali musim hujan tiba dengan anomali cuaca yang dipicu krisis iklim global, tanah longsor dan banjir bandang menerjang permukiman hilir tanpa ampun. 

Fenomena banjir bandang lahar hujan maupun luapan sungai di berbagai daerah di tanah air memperlihatkan pola yang serupa dengan tragedi Himalaya, yaitu akumulasi air dan material padat yang tertahan di hulu, lalu menghantam hilir secara tiba-tiba karena hilangnya fungsi penyangga hutan alam.

Dari Keserakahan Menuju Kesadaran

Pelajaran termahal dari petaka di perbatasan Himalaya adalah desakan untuk mengubah paradigma pembangunan kita dari model eksploitatif menuju model regeneratif. Kita tidak bisa terus menjalankan kebijakan ekonomi yang menomorduakan kelestarian lingkungan demi mengejar pertumbuhan angka semu di atas kertas. 

Kategori :