Grebeg Minggir

Selasa 08-09-2026,21:14 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

Itu membuat pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama. Ia menjadi titik temu berbagai segmen masyarakat. Bukan tempat menyeragamkan semua orang. Tapi, ruang untuk mengelola perbedaan.

Itu lebih berarti dalam masyarakat yang gampang terbelah. Saat politik identitas bikin orang cepat saling curiga. Saat media sosial mengurung manusia dalam ruang gema: hanya mau mendengar mereka yang sepaham dan membenci mereka yang berbeda.

Pondok Minggir menawarkan jalan sebaliknya. Ia mempertemukan manusia secara langsung. Mengelola kemajemukan menjadi energi baru.

Kemajemukan dipraktikkan melalui perjumpaan. Orang datang, duduk, makan, tertawa, berdoa, dan bekerja bersama. Sekat-sekat sosial mencair tidak melalui pidato besar. Tapi, melalui pengalaman bersama.

Grebeg Minggir adalah bentuk nyata cara kerja itu. Acara keagamaan dipertemukan dengan kebudayaan. Jamaah dipertemukan dengan masyarakat. Kiai dipertemukan dengan petani. Hasil bumi dipertemukan dengan rasa syukur. 

Tak ada benturan antara Islam dan budaya. Keduanya justru saling menghidupi. Agama memberikan nilai dan orientasi moral. Budaya memberikan bahasa agar nilai agama bisa diterima masyarakat.

Gus Muwafiq memahami betul bahwa Islam berkembang di Nusantara tidak melalui pemutusan tradisi. Tapi, melalui proses dialog panjang dengan kebudayaan setempat. 

Para wali dulu tidak datang dengan kemarahan terhadap kebiasaan masyarakat. Mereka mengolahnya, memberikan makna baru. Lalu, menjadikannya jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan. 

Tentu pembangunan Pondok Minggir belum selesai. Bangunan fisiknya akan terus berkembang. Lembaga pendidikan dan sistem pengelolaannya juga masih harus diperkuat. 

Tantangan terbesar berikutnya justru tidak menghadirkan massa. Tapi, mengubah besarnya jamaah menjadi kekuatan sosial yang produktif.

Pesantren itu kelak dapat menjadi pusat pendidikan. Juga, pusat kebudayaan, pemberdayaan petani, pengembangan ekonomi rakyat, pelatihan anak muda, serta ruang dialog lintas kelompok. 

Lahan yang luas memungkinkan Pondok Minggir menjadi laboratorium hubungan baru. Penghubung antara pesantren, pertanian, kebudayaan, dan kewirausahaan sosial.

Di sini transformasi Gus Muwafiq diuji. Tokoh gerakan bisa menggerakkan massa dengan pidato. Tapi, pemimpin pesantren harus membangun institusi. Menyiapkan kader, mengelola sumber daya, dan memastikan gagasannya dapat hidup.

Karena itu, Grebeg Minggir bukan sekadar perayaan maulid nabi. Ia merupakan penanda kelahiran sebuah pusat sosial baru. Sebuah ikhtiar menjadikan pesantren sebagai rumah besar kemajemukan.

Dari tempat yang bernama Minggir itu, ia sedang menunjukkan bahwa sesuatu yang berada di pinggir dapat menjadi pusat. Pusat perjumpaan, pusat kebudayaan, dan pusat konsolidasi masyarakat yang beragam.

Mungkin memang demikian jalan hidup seorang kiai. Pada mulanya ia mencari banyak guru. Kemudian, berkeliling menemui umat. Pada akhirnya, ia membangun rumah agar semua orang bisa datang dan bertemu.

Kategori :