Grebeg Minggir
KETUA UMUM PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz hadir di Grebeg Minggir di Ponpes Minggir, Sleman, Yogyakarta, pimpinan Gus Muwafiq, Sabtu, 5 September 2026. -Arif Afandi untuk Harian Disway-
ADA magnet baru di Minggir, Sleman, Yogyakarta. Namanya Pondok Pesantren Minggir. Pendiri dan pimpinannya Ahmad Muwafiq yang akrab dipanggil Gus Muwafiq. Kiai nyentrik berambut gondrong.
”Saya belum pernah memberi nama Pondok Minggir. Yang memberi nama masyarakat. Akhirnya semua ikut menyebutnya Pondok Minggir,” kata Gus Muwafiq akhir pekan lalu.
Saya ikut menyaksikan sejarah perkembangan pondok yang berdiri di atas lahan 10 hektare itu. Mulai proses pembebasan lahan sampai menjadi pondok yang setiap kegiatan dihadiri puluhan ribu jamaah.
Minggir adalah kecamatan atau kapanewon dalam struktur administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta. Sebelah barat pusat kota. Jarak 30 menit dengan kendaraan bermotor. Secara administratif masuk Kabupaten Sleman.
Pondok pesantren (ponpes) itu tadinya hamparan sawah. Mulai ditempati 17 Agustus 2023. Diawali dengan mendirikan tenda sebagai tempat tinggal sementara Gus Muwafiq dan keluarganya. Setelah selama 25 tahun ia tinggal di rumah kontrakan di Jombor.
BACA JUGA:Pesta Akbar Warga Ponorogo, Ya Grebeg Suro.
Sejak tahun pertama pindah ke Minggir, Gus Muwafiq menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Meneruskan tradisi saat masih tinggal di Jombor. Hanya, kegiatan itu sekarang diberi nama Grebeg Minggir.
”Saya juga tidak pernah memberi nama demikian. Warga yang memberi nama. Kebetulan saat itu di keraton pas tidak ada Grebeg Maulid,” tambah kiai kelahiran Lamongan, Jawa Timur, tersebut.
Yang unik, Gus Muwafiq membangun ponpes dengan mulai mendirikan joglo besar. Tempat untuk segala kegiatan. Mulai salat berjamaah, pengajian, pertemuan masyarakat, hingga kegiatan keagamaan lainnya.
Rupanya itu menjadi mimpinya. Ia membangun ponpes tak seperti pesantren tradisional pada umumnya. Ia membayangkan pondoknya menjadi simpul bertemunya berbagai kelompok masyarakat yang majemuk.
Lewat Grebeg Minggir, ia mengadopsi tradisi maulidan di keraton. Disajikan hasil tanaman jamaah dan masyarakat yang menjadi santri kultural Gus Muwafiq. Ada durian, wortel, kubis, buah-buahan, dan hasil bumi lainnya.
Hasil bumi itu bukan sekadar hiasan. Melainkan, juga simbol hubungan antara agama, kebudayaan, dan kehidupan masyarakat. Simbol bahwa Islam ibarat tanaman. Subur jika dirawat.

HASIL BUMI dipajang di depan panggung dan jamaah sebelum diperebutkan para jamaah. Ada durian dan berbagai hasil bumi. -Arif Afandi untuk Harian Disway-
Di negeri ini, Islam tumbuh dari tanah, sawah, pasar, kampung, dan kerja keras masyarakat sehari-hari. Tidak langsung datang dari langit. Menyatu dengan kebudayaan yang telah mengakar sejak lama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: