Grebeg Minggir

Grebeg Minggir

KETUA UMUM PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz hadir di Grebeg Minggir di Ponpes Minggir, Sleman, Yogyakarta, pimpinan Gus Muwafiq, Sabtu, 5 September 2026. -Arif Afandi untuk Harian Disway-

Pondok Minggir ingin mengolah semua itu. Yang datang bukan santri untuk belajar kitab. Ada petani, pedagang, seniman, pejabat, anggota organisasi kemasyarakatan, aparat keamanan, aktivis, pengusaha, dan warga biasa. 

Mereka datang dengan latar belakang dan kepentingan yang berbeda. Tetapi, di sana mereka bisa duduk di halaman yang sama. Menikmati makanan yang sama. Mendengarkan pengajian yang sama dan berdoa bersama.

Itu membuat pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama. Ia menjadi titik temu berbagai segmen masyarakat. Bukan tempat menyeragamkan semua orang. Tapi, ruang untuk mengelola perbedaan.

Itu lebih berarti dalam masyarakat yang gampang terbelah. Saat politik identitas bikin orang cepat saling curiga. Saat media sosial mengurung manusia dalam ruang gema: hanya mau mendengar mereka yang sepaham dan membenci mereka yang berbeda.

Pondok Minggir menawarkan jalan sebaliknya. Ia mempertemukan manusia secara langsung. Mengelola kemajemukan menjadi energi baru.

Kemajemukan dipraktikkan melalui perjumpaan. Orang datang, duduk, makan, tertawa, berdoa, dan bekerja bersama. Sekat-sekat sosial mencair tidak melalui pidato besar. Tapi, melalui pengalaman bersama.

Grebeg Minggir adalah bentuk nyata cara kerja itu. Acara keagamaan dipertemukan dengan kebudayaan. Jamaah dipertemukan dengan masyarakat. Kiai dipertemukan dengan petani. Hasil bumi dipertemukan dengan rasa syukur. 

Tak ada benturan antara Islam dan budaya. Keduanya justru saling menghidupi. Agama memberikan nilai dan orientasi moral. Budaya memberikan bahasa agar nilai agama bisa diterima masyarakat.

Gus Muwafiq memahami betul bahwa Islam berkembang di Nusantara tidak melalui pemutusan tradisi. Tapi, melalui proses dialog panjang dengan kebudayaan setempat. 

Para wali dulu tidak datang dengan kemarahan terhadap kebiasaan masyarakat. Mereka mengolahnya, memberikan makna baru. Lalu, menjadikannya jalan untuk mendekatkan manusia kepada Tuhan. 

Tentu pembangunan Pondok Minggir belum selesai. Bangunan fisiknya akan terus berkembang. Lembaga pendidikan dan sistem pengelolaannya juga masih harus diperkuat. 

Tantangan terbesar berikutnya justru tidak menghadirkan massa. Tapi, mengubah besarnya jamaah menjadi kekuatan sosial yang produktif.

Pesantren itu kelak dapat menjadi pusat pendidikan. Juga, pusat kebudayaan, pemberdayaan petani, pengembangan ekonomi rakyat, pelatihan anak muda, serta ruang dialog lintas kelompok. 

Lahan yang luas memungkinkan Pondok Minggir menjadi laboratorium hubungan baru. Penghubung antara pesantren, pertanian, kebudayaan, dan kewirausahaan sosial.

Di sini transformasi Gus Muwafiq diuji. Tokoh gerakan bisa menggerakkan massa dengan pidato. Tapi, pemimpin pesantren harus membangun institusi. Menyiapkan kader, mengelola sumber daya, dan memastikan gagasannya dapat hidup.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: