Grebeg Minggir
KETUA UMUM PBNU KH Abdul Hakim Mahfudz hadir di Grebeg Minggir di Ponpes Minggir, Sleman, Yogyakarta, pimpinan Gus Muwafiq, Sabtu, 5 September 2026. -Arif Afandi untuk Harian Disway-
Di titik itulah kita bisa membaca transformasi Gus Muwafiq. Ia tidak tiba-tiba muncul sebagai kiai. Yang mempunyai ponpes dan jamaah besar. Jalan hidupnya berlangsung panjang.
Berangkat dari dunia pergerakan mahasiswa. Lalu, berkeliling di antara pesantren. Bergaul dengan seniman dan aktivis. Mendampingi Gus Dur. Lantas, menjadi penceramah dari satu panggung ke panggung lainnya.
Gus Muwafiq pernah aktif di PMII. Bagian gerakan mahasiswa 1998. Ia pernah di lingkaran dekat Gus Dur dan menjadi asistennya. Di situ ia bertemu dengan banyak kelompok, pemikiran, tradisi, dan lapisan masyarakat.
Sebagai orang gerakan, ia terbiasa melihat kehidupan dari bawah. Gerakan mengajarkan bahwa masyarakat tidak bisa dipahami hanya dari ruang rapat. Aspirasi rakyat tidak selalu hadir dalam bahasa akademik.
Ia terkadang muncul dalam guyonan warung kopi, kegelisahan petani, dan kemarahan anak muda. Juga, kesenian rakyat dan ritual kebudayaan yang diwariskan turun-temurun.
Dari Gus Dur, ia tampaknya belajar bahwa menjadi kiai tidak cukup hanya menguasai kitab. Seorang kiai harus memahami manusia beserta seluruh kerumitan hidupnya.
Ia harus sanggup berbicara dengan santri maupun preman. Pejabat maupun petani. Aktivis maupun aparat. Juga, kelompok mayoritas maupun minoritas.
Ceramah Gus Muwafiq tak berhenti membahas halal dan haram. Ia menghubungkan agama dengan sejarah Nusantara, kebudayaan lokal, nasionalisme, kehidupan rakyat kecil, dan tantangan kebangsaan.
Penampilannya pun tidak berubah. Rambut tetap gondrong. Kaus oblong dan sarung tetap menjadi cirinya. Ia tidak merasa perlu mengganti penampilan untuk mendapatkan legitimasi sebagai kiai.
Transformasi Gus Muwafiq bukanlah perubahan dari seorang aktivis menjadi orang lain. Watak gerakannya tidak hilang. Energi itu hanya berpindah bentuk.
Dulu ia bergerak melalui jaringan mahasiswa dan aktivitas politik kebangsaan. Lantas, bergerak lewat panggung-panggung pengajian. Sekarang gerakan tersebut mulai dilembagakan melalui sebuah pesantren.
Kalau dulu ia mendatangi masyarakat, kini masyarakat yang datang kepadanya. Itulah perubahan penting dalam perjalanan Gus Muwafiq.
Dari tokoh gerakan menjadi pemimpin ekosistem sosial. Dari penceramah keliling menjadi kiai pemilik pusat gravitasi. Dari berpindah-pindah panggung menjadi pengasuh pesantren yang menyiapkan ruang hidup banyak orang.
Menariknya, pusat gravitasi itu tidak dibangun di tengah kota. Ia memilih Minggir. Namanya sendiri seakan mengandung pesan: berada di pinggir, tetapi tidak terpinggirkan.
Secara budaya, pinggiran justru sering menjadi tempat lahirnya energi baru. Kota mungkin punya gedung, modal, dan teknologi. Namun, desa menyimpan ikatan sosial, tradisi, ingatan kolektif, dan kedekatan manusia dengan alam.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: