Perbedaannya bukan pada kemampuan mereka menghilangkan ancaman alam, melainkan upaya menjadikan kesiapsiagaan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Di Jepang, Japan Meteorological Agency menyediakan materi pendidikan kebencanaan sekaligus mendorong latihan menggunakan earthquake early warning. Materi untuk sekolah dirancang agar anak tidak sekadar mengetahui apa itu gempa, tetapi juga belajar tindakan yang harus dilakukan ketika peringatan datang.
Jepang juga secara nasional menjalankan latihan peringatan gempa yang melibatkan pemerintah daerah dan masyarakat.
Selandia Baru melakukan hal serupa melalui New Zealand ShakeOut, latihan gempa dan evakuasi tsunami nasional. Sekolah, tempat kerja, dan keluarga mempraktikkan tindakan sederhana drop, cover and hold.
Untuk masyarakat pesisir, ada pesan yang sangat mudah diingat: ”Long or strong, get gone” (jika gempa terasa lama atau kuat, segera menjauh dari pantai tanpa menunggu terlalu banyak instruksi).
Pelajaran terpenting dari kedua negara tersebut sebenarnya sederhana, keselamatan tidak cukup diajarkan sebagai pengetahuan. Keselamatan harus dilatih menjadi kebiasaan.
Mengembalikan Ilmu tentang Bumi
Rasanya kita perlu memeriksa dunia pendidikan kembali. Generasi lebih tua Indonesia tentu masih akrab dengan istilah ilmu bumi. Dalam sejarah pendidikan, ilmu bumi pernah menjadi mata pelajaran tersendiri sebelum kemudian berbagai materi sosial dan geografi diintegrasikan dalam struktur kurikulum berikutnya.
Kita tidak harus menghidupkan kembali nama mata pelajaran itu secara harfiah. Namun, semangat ilmu bumi perlu dikembalikan.
Anak Indonesia perlu memahami bumi tempat ia tinggal. Murid tidak cukup mampu menunjukkan gunung, sungai, dan laut dalam peta. Mereka perlu belajar membaca risiko.
Pengetahuan arah mata angin perlu ditanamkan. Di mana posisi rumah, apakah termasuk daerah rawan banjir, dan ke mana harus pergi ketika gempa terjadi? Di mana titik kumpul sekolah, dan siapa yang harus dibantu lebih dahulu jika ada gempa? Itulah literasi kebumian.
UNESCO bahkan mendorong pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam sistem pendidikan, khususnya di negara yang rentan terhadap bahaya alam. Kiranya, Indonesia justru mempunyai alasan jauh lebih kuat untuk melakukannya.
Dari Ingatan Bencana Menjadi Budaya Kesiapsiagaan
Indonesia bukan kekurangan pengalaman. Indonesia telah mengalami Aceh 2004, Yogyakarta 2006, Merapi 2010, Palu 2018, tsunami Selat Sunda 2018, gempa Cianjur 2022, dan berbagai bencana lainnya. Kita mempunyai ilmuwan, teknologi pemantauan, lembaga penanggulangan bencana, pengalaman relawan, dan pengetahuan lokal yang sangat kaya.
Namun, kita sering lupa atas ingatan sosial kita terhadap risiko. Sesudah bencana besar, kesadaran meningkat. Seminar diselenggarakan. Simulasi dilakukan. Pemerintah dan masyarakat berbicara tentang mitigasi. Namun, setelah beberapa waktu, perhatian soal bencana menurun. Sampai kemudian bencana berikutnya datang dan kita kembali terkejut.
Karena itu, kesiapsiagaan tidak bisa hanya diserahkan kepada BNPB dan BPBD. Mitigasi harus menjadi bagian dari pembangunan, pendidikan sekolah, riset kampus, pengelolaan gedung, tata ruang pemerintah daerah, inisiatif komunitas, dan rencana kedaruratan setiap keluarga.