Hidup di Negeri Risiko

Rabu 09-09-2026,13:44 WIB
Oleh: Suko Widodo & Rinda A.S.*

Senada dengan pandangan Kaori Kitagawa (2021) tentang konseptualisasi pendidikan bencana, kita perlu membangun public pedagogy yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam pengurangan risiko bencana. Penerapannya harus berbasis komunitas agar lebih terarah dan realistis. 

Bukankah setiap komunitas memiliki ingatan bencana dan telah membangun kearifan lokal untuk mengurangi risikonya? Mari kita bangun budaya kesiapsiagaan yang partisipatif, sesuai dengan kearifan lokal, tak perlu ”satu solusi untuk semua”.

Menggeliatnya Anak Krakatau akhir-akhir ini seharusnya tidak hanya kita lihat sebagai gunung yang sedang erupsi. Ia adalah pengingat tentang sebuah kenyataan geografis yang tidak dapat kita ubah.

Kita Hidup di Negeri Risiko

Indonesia berdiri di atas patahan, di antara gunung api, menghadap laut yang menyimpan gempa dan tsunami, serta menghadapi hujan ekstrem dan kekeringan yang kian sulit ditebak. Kita tidak dapat memindahkan negeri ini dari jalur bencana, tetapi kita dapat mengubah cara hidup di dalamnya.

Jangan biarkan setiap bencana datang sebagai kejutan. Kenali tanah yang dipijak, pahami tanda-tanda alam, hafalkan jalur evakuasi, dan bangun kesiapsiagaan sebagai kebiasaan bersama.

Sebab, ancaman mungkin tak selalu dapat dicegah, tetapi kerentanan dapat dikurangi. Pengetahuan dapat menyelamatkan, dan kesiapan dapat mengubah bencana agar tidak menjadi tragedi.

Menyadari Indonesia sebagai negeri risiko bukan berarti hidup dalam ketakutan. Itulah cara kita merawat kehidupan. (*)

*) Suko Widodo adalah dosen Departemen Komunikasi, FISIP, Universitas Airlangga, Surabaya.

*) Rinda Aunillah Sirait  adalah peneliti Pusat Studi Komunikasi Lingkungan, Fikom, Universitas Padjadjaran, Bandung.

 

 

Kategori :