FOMO pada dasarnya merupakan paradigma ekonomi perilaku. Manusia tidak hanya membandingkan kondisi aktual dirinya, tetapi juga membandingkannya dengan ”harga referensi” yang dibentuk oleh lingkungan sosial.
Media sosial kemudian mengglorifikasi fenomena itu karena yang ditampilkan biasanya berupa potret: keberhasilan, pencapaian, liburan, kemewahan, dan kebahagiaan yang telah dikurasi.
Akibatnya, mereka menghadapi paradoks baru: makin banyak pilihan yang tersaji, makin besar pula kecemasan untuk memilih dengan benar.
Dalam konteks ini, individu ingin memperoleh kendali lebih besar atas hidupnya. Namun, di sisi lain, makin mudah dikendalikan oleh mesin algoritma yang justru lebih mengetahui dan memahami preferensi, kebiasaan, dan kelemahannya.
Ketika kekuatan algoritma memicu lahirnya dataism, yaitu sebuah paradigma yang menempatkan arus data dan ekosistem algoritmik sebagai sumber otoritas baru, fenomenanya kian tak terhindarkan.
Popularitas dan bobot kualitas seseorang dapat diukur melalui jumlah follower. Sebuah gagasan dapat dianggap penting dan ”benar” karena viral. Sebuah produk dapat dianggap berkualitas karena ratingnya tinggi.
Bahkan, harga diri seseorang –kadang tanpa disadari– dikaitkan dengan tinggi-rendahnya respons digital yang diterimanya.
Pelan tapi pasti, membawa perubahan signifikan: validasi sosial bergeser dari sesuatu yang lazimnya diperoleh melalui relasi dunia nyata menjadi sesuatu yang dapat dihitung secara digital. Manusia kemudian terdorong untuk mengoptimalkan dirinya agar disukai algoritma sekaligus disukai komunitasnya.
Foto, opini, gaya hidup, bahkan identitas pribadi dikemas menjadi semacam ”produk”. Kita tidak hanya menjalani kehidupan, tetapi juga memproduksi representasi kehidupan untuk dikonsumsi orang lain.
Itulah salah satu episode paling gelap dari proyek homo deus. Individu yang terlalu terobsesi pada optimasi digital akan sangat riskan kehilangan kemampuan dalam menerima keterbatasan diri sendiri.
Di sinilah relevansi homo deus dengan resiliensi menjadi sangat kuat. Resiliensi tidak berarti manusia tak pernah jatuh. Resiliensi adalah kemampuan untuk menghadapi tekanan, mengalami kegagalan, beradaptasi, kemudian membangun kembali dirinya.
Budaya instan justru berpotensi melemahkan kemampuan tersebut. Ketika seseorang terbiasa memperoleh kepuasan dengan cara instan, toleransi terhadap penundaan dan kegagalan dapat melemah. Ketika validasi sosial menjadi kebutuhan utama, sebuah kritik dapat dianggap sebagai ancaman terhadap eksistensi identitas.
Ketika kehidupan terus-menerus dibandingkan melalui media sosial, kegagalan pribadi terasa jauh lebih besar daripada kenyataannya. Dalam perspektif demikian, tantangan terbesar manusia era ultramodern barangkali bukan karena kurangnya sentuhan teknologi, melainkan melemahnya daya tahan menghadapi ketidakpastian.
Manusia resilien bukan manusia yang selalu nyaman. Ia justru mampu bertahan dalam iklim ketidaknyamanan tanpa kehilangan orientasi. Ia mampu menunda kepuasan, menerima kegagalan, mengakui keterbatasan, dan tetap bergerak ketika hasilnya belum tampak.
Pada akhirnya, sangat boleh jadi, manusia berhasil memperpanjang usia, mengembangkan kecerdasan buatan, membangun koloni di planet lain, dan mengembangkan kemampuan teknologi kloning, tetapi semua itu tidak menjamin manusia menjadi lebih bijaksana.
Karena itu, mungkin proyek terbesar manusia abad ke-21 bukan sekadar menjadi homo deus, melainkan menjadi homo resiliens. Yakni, manusia yang piawai memanfaatkan kekuatan teknologi tanpa kehilangan kemampuan untuk mengarungi ketidakpastian, menghadapi kegagalan, dan mempertahankan sisi kemanusiaannya.