Dengan pendekatan itu, pabrik tak lagi sekadar mengejar jumlah ton tebu. Orientasinya bergeser kepada jumlah hablur atau gula yang dihasilkan per hektar. Produktivitas lahan dan rendemen dipandang sebagai satu kesatuan. Tebu banyak dengan rendemen rendah belum tentu menyejahterakan petani dan menyehatkan pabrik.
Pemerintah, SGN, APTRI, perbankan, pemerintah daerah, dan lembaga riset harus duduk dalam satu meja. Bukan hanya ketika muncul kelangkaan pupuk, kekurangan tebu, atau protes harga. Mereka harus menyusun satu arsitektur industri gula dari hulu sampai hilir dengan pembagian risiko dan manfaat yang adil.
Kesediaan ketua umum DPP APTRI mereorganisasi petani berbasis satu hamparan merupakan pintu masuk yang penting. Inilah kesempatan mengubah petani yang tercerai-berai menjadi kekuatan produksi yang terorganisasi. Dari sekadar pemasok menjadi mitra strategis pabrik gula.
Jangan sampai kita berhasil membangun dan merevitalisasi pabrik, tapi gagal merawat petani serta memastikan tebunya. Sebab, masa depan industri gula tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih mesin di dalam pabrik. Ia ditentukan seberapa sehat hubungan antara pabrik, petani, lahan, teknologi, dan alam.
Tebang langka hari ini adalah alarm. Jawabannya bukan sekadar mencari tambahan tenaga tebang. Kita harus menata ulang seluruh ekosistemnya. Dari petak-petak kecil menuju hamparan. Dari kerja manual menuju mekanisasi. Dari hubungan transaksional menuju kemitraan. Dari pola tanam berbasis kebiasaan menuju industri gula berbasis agroklimat.
Dari sanalah kepastian BBT dan kesejahteraan petani tebu dapat dibangun secara bersamaan. (*)