Revitalisasi mesin pabrik tidak akan banyak berarti jika tidak disertai revitalisasi kebun dan petaninya. Mesin canggih tidak akan mampu menghasilkan gula secara efisien jika kekurangan bahan baku, rendahnya kualitas tebu, harus menunggu kiriman tebu yang terhambat persoalan tebang dan angkut.
BACA JUGA:Gula Kakao
BACA JUGA:Joglo Gula
Tebu adalah tanaman. Tetapi, industri gula merupakan ekosistem. Di dalamnya ada petani, lahan, pembiayaan, varietas, pupuk, tenaga kerja, transportasi, pabrik, pedagang, teknologi, dan kebijakan pemerintah. Kerusakan pada salah satu mata rantai akan memengaruhi seluruh sistem.
Karena itu, hubungan PG dan petani tidak boleh berhenti pada transaksi jual-beli. Harus dibangun kemitraan dalam satu sistem produksi. PG tidak hanya menunggu tebu datang di pintu pabrik. Ia perlu terlibat sejak penataan lahan, pemilihan varietas, penyediaan benih, pembiayaan, pemupukan, pengendalian hama, penentuan waktu tebang, dan pengangkutan tebu.
Di sisi lain, petani membutuhkan kepastian. Mereka perlu mengetahui sejak awal siapa yang membiayai? Siapa yang membina? Kapan tebu ditebang? Ke pabrik mana tebu dikirim? Bagaimana kualitasnya diukur? Juga, berapa hasil yang akan diterima? Tanpa itu, loyalitas petani mudah goyah.
Pertemuan dengan Fachrudin memberikan harapan baru. Ia bersedia melakukan reorganisasi petani tebu berdasarkan satu hamparan lahan. Selama ini kepemilikan dan pengelolaan lahan petani sangat terfragmentasi. Satu petak ditanam pada waktu berbeda. Juga, menggunakan varietas dan dipelihara berbeda. Ditebang menurut kepentingan mereka.
BACA JUGA:Gula Swatata
BACA JUGA:Swa-gula Nusantara
Dalam kondisi seperti itu, mekanisasi menjadi sulit diterapkan. Mesin tidak mungkin bekerja secara efisien jika harus masuk ke petak-petak kecil dan tersebar. Apalagi, tidak ada akses jalan yang memadai dan menggunakan pola tanam yang tidak seragam.
Reorganisasi berbasis hamparan tak berarti mengambil alih kepemilikan petani. Hak milik tetap di mereka. Yang disatukan adalah perencanaan budi daya dan operasionalnya. Jadwal tanam, varietas, pemupukan, pemeliharaan, waktu tebang, dan penggunaan alat secara kolektif.
Dengan model itu, mekanisasi dapat masuk secara ekonomis. Mulai penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, hingga tebang, muat, dan angkut. Ongkos produksi dapat ditekan, pekerjaan menjadi lebih cepat, dan kehilangan gula akibat keterlambatan pengiriman dapat dikurangi.
Mekanisasi TMA bukan sekadar jawaban atas kelangkaan tenaga tebang. Ia menjadi instrumen penciptaan kepastian rantai pasok. Pabrik dapat mengetahui kapan, dari mana, dan berapa banyak tebu yang masuk setiap hari. Jadwal tebang bisa diselaraskan dengan kapasitas giling. Jadi, tebu tidak terlalu lama menginap di kebun atau menumpuk di pabrik.
Itulah titik temu kepentingan PG dan petani. Pabrik memperoleh kepastian pasokan bahan baku. Di sisi lain, petani memperoleh biaya TMA yang efisien, jadwal tebang yang pasti, dan potensi pendapatan yang lebih besar. Reorganisasi petani berbasis hamparan juga memungkinkan akses pembiayaan secara kolektif dan lebih bankable.
Namun, reorganisasi petani dan mekanisasi TMA harus menjadi bagian dari desain yang lebih besar. Redesain ekosistem industri gula nasional berbasis agroklimat. Selama ini pola tanam dan musim giling cenderung mengikuti kebiasaan administratif. Bukan mengikuti karakter iklim, tanah, air, dan tingkat kemasakan tebu di setiap wilayah.
Padahal, Indonesia memiliki zona agroklimat yang berbeda-beda. Sumatera, Jawa, Sulawesi, dan kawasan timur Indonesia tidak dapat diperlakukan dengan kalender tanam dan pola giling seragam. Setiap wilayah memiliki peta agroklimat, varietas unggulan, pola tanam, sistem irigasi, jadwal tebang, dan musim giling yang spesifik.