Menuju E10 & E20, Pakar ITS Ungkap Tantangan Ekosistem Bioetanol Nasional

Minggu 20-09-2026,13:45 WIB
Reporter : Edi Susilo
Editor : Indria Pramuhapsari

SURABAYA, HARIAN DISWAY - Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus tancap gas mendorong pemanfaatan bioetanol sebagai bahan bakar nabati.

Setelah sukses menguji dan mengimplementasikan E5 (bensin dengan campuran 5 persen bioetanol), arah kebijakan energi nasional kini menuju E10, bahkan berlanjut ke E20 di masa mendatang. Namun, transisi besar itu tidak sesederhana mencampurkan bahan bakar di kilang minyak.

Pakar Konversi Energi dan Bioenergi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Sudarmanta mengingatkan bahwa peralihan E5 menuju E10 dan E20 memerlukan pembangunan ekosistem yang terpadu secara menyeluruh. Mulai dari hulu di sektor pertanian hingga hilir di tangan konsumen.

"Kebutuhan bioetanol untuk penerapan E10 secara teoritis mencapai sekitar 4 juta kiloliter per tahun, dengan asumsi konsumsi bensin nasional menyentuh 40 juta kiloliter. Ini adalah skala produksi yang sangat masif," ujar Bambang kepada Harian Disway Minggu, 20 September 2026.

BACA JUGA: Pemerintah Kejar Target Program E20 2 Tahun Lagi, Siapkan 2 Juta Hektare Kebun Tebu

BACA JUGA:Pertamina Perkuat Kolaborasi Pengembangan Bioetanol untuk Dukung Target E20

Ia menyoroti adanya kesenjangan yang tajam antara kebutuhan teoritis tersebut dengan kapasitas produksi fuel-grade etanol di dalam negeri yang sebelumnya tercatat baru sekitar 63 juta liter per tahun.

Artinya, peningkatan kapasitas produksi dan pembangunan rantai pasok terpadu menjadi pekerjaan rumah mendesak yang harus diselesaikan pemerintah bersama para pemangku kepentingan industri.

Karakteristik Unik Etanol: Oktan Tinggi, Nilai Kalor Lebih Rendah

Dari sudut pandang teknologi pembakaran, Bambang menjelaskan bahwa etanol memiliki karakteristik fisik dan kimia yang berbeda dari bensin fosil konvensional.

Di satu sisi, etanol memiliki angka oktan yang tinggi, sehingga sangat baik dalam meningkatkan ketahanan mesin terhadap knocking (ngelitik) dan membuka peluang optimalisasi rasio kompresi.

BACA JUGA:Pertamina NRE Kembangkan Bioetanol dari Sorgum hingga Biomassa

BACA JUGA:Bertemu Prabowo, Dirut Pertamina Siapkan Infrastruktur untuk Impementasi B50 dan Bioetanol

Namun, di sisi lain, kandungan energi per satuan volume (nilai kalor) etanol lebih rendah daripada bensin.

"Konsekuensinya, untuk menghasilkan daya yang setara pada kondisi tertentu, mesin membutuhkan volume bahan bakar yang lebih besar. Sistem injeksi dan engine control kendaraan harus mampu menyesuaikan rasio udara-bahan bakar secara presisi," jelasnya.

Selain itu, sifat higroskopis etanol atau kecenderungannya menyerap air dari lingkungan, menjadi tantangan krusial dalam sistem penyimpanan dan distribusi.

Kategori :