Tingginya kelembapan udara di Indonesia berpotensi memicu separation phase (pemisahan fase antara air-ethanol dan hidrokarbon). Jika kondisi ini masuk ke ruang bakar, dampaknya bisa memicu korosi, misfire, hingga penyumbatan filter bahan bakar.
BACA JUGA:Gandeng Toyota dan PNRE, Pemerintah Percepat Pengembangan BBM Bioetanol di Lampung
BACA JUGA:Kembangkan Bioetanol Indonesia, Pertamina NRE Gandeng US Grains & BioProducts Council
Dalam penyediaan bahan baku, tebu menjadi salah satu tumpuan strategis melalui pemanfaatan molasses (tetes tebu) hasil industri gula. Bambang menekankan pentingnya mendongkrak produktivitas pertanian tebu nasional.
Berdasarkan data, rendemen tebu saat ini masih berada di kisaran 7,5 persen, sementara target ambisius dipatok naik hingga 11,2 persen pada 2030 mendatang dengan produktivitas 93 ton per hektare.
"Diversifikasi bahan baku seperti singkong dan jagung, hingga pengembangan bioetanol generasi berikutnya dari bahan lignoselulosa, juga perlu disiapkan matang agar tidak memicu kompetisi yang berlebihan antara kebutuhan energi dan pangan," tambahnya.
Selain ketersediaan bahan baku, kesiapan infrastruktur mulai dari tangki penyimpanan SPBU, jaringan pipa, pompa, hingga kompatibilitas material kendaraan (seperti seal, gasket, dan tangki) wajib dievaluasi secara ketat.
BACA JUGA:Menteri Kehutanan dan Pertamina NRE Dorong Program Aren untuk Pengembangan Bioetanol
BACA JUGA:Campuran Pertamax Bioetanol Dirilis Bulan Ini, Sudah Diuji di Surabaya
Menghadapi kompleksitas tantangan tersebut, Bambang menyarankan peningkatan kadar etanol menuju E10 dan E20 dilakukan secara bertahap, berbasis data ilmiah.
Sekaligus, harus melalui pengujian yang komprehensif. Pengujian tersebut meliputi uji stabilitas penyimpanan, uji kompatibilitas material, hingga fleet testing dalam kondisi operasi nyata.
Terakhir, edukasi masyarakat memegang peranan kunci. Konsumen perlu diberi pemahaman yang transparan bahwa tingginya angka oktan pada bioetanol tidak otomatis membuat konsumsi bahan bakar lebih irit, karena faktor kandungan energi dan efisiensi mesin tetap berpengaruh.
"Keberhasilan program ini bukan sekadar apakah etanol bisa dibakar di mesin, melainkan sejauh mana seluruh rantai nilai dari kebun tebu hingga tangki kendaraan siap beradaptasi secara handal, aman, dan berkelanjutan," pungkasnya. (*)