Kerangka kebijakannya sebenarnya sudah tersedia. Skema ajakan industri dalam program hilirisasi Kemdiktisaintek dimulai dengan industri mengajukan kebutuhan inovasinya lebih dulu, baru kemudian dosen menangkap peluang itu. Pertanyaannya tinggal satu. Apakah kampus vokasi diajak duduk di meja yang sama?
Pola itu lebih masuk akal daripada model lama. Dulu kampus meneliti sendiri, menghasilkan prototipe, lalu berharap industri tertarik membelinya. Industri tidak membeli penelitian. Industri membeli solusi yang bekerja.
Vokasi Juga Harus Berbenah
Tulisan ini tidak hendak mengatakan vokasi otomatis menjadi jawaban. Data BPS Februari 2026 justru memberikan dua cerita yang berlawanan. Tingkat pengangguran terbuka lulusan diploma 1 sampai 3 tercatat 4,80 persen. Angka itu lebih rendah daripada lulusan D-4 hingga S-3 yang mencapai 6,13 persen. Kedekatan dengan dunia kerja terbukti bekerja.
Namun, di jenjang menengah, lulusan SMK justru mencatat pengangguran tertinggi, yaitu 7,74 persen. Label vokasi tidak menjamin apa pun jika kurikulum dan praktiknya jauh dari industri.
Skalanya juga masih kecil. Dari hampir 10 juta mahasiswa pada 2025, mahasiswa D-3 hanya sekitar 544 ribu. Jika vokasi ingin menjadi jembatan hilirisasi, bengkel, laboratorium, dan dosen praktisinya harus diperkuat. Tanpa itu, gagasan industrialization hub hanya akan menjadi jargon baru.
Membangun Ekosistem, Bukan Proyek
Hilirisasi tidak boleh menjadi proyek sesaat yang berhenti ketika dana hibah habis. Ia membutuhkan ekosistem. Perguruan tinggi akademik menjadi sumber pengetahuan dan teknologi.
Kampus vokasi menjadi ruang rekayasa, pengujian, dan pengembangan produk. Industri menjadi pengguna sekaligus mitra komersialisasi. Pemerintah menyediakan regulasi, insentif, pendanaan, dan akses pasar.
Pembagian peran itu juga menyangkut siapa yang membayar. Pada 2018, lebih dari 80 persen belanja riset nasional masih bersumber dari APBN. Industri manufaktur hanya menyumbang sekitar 9 persen.
BRIN menargetkan 80 persen belanja litbang berasal dari nonpemerintah pada akhir 2029. Target itu sulit tercapai jika industri belum melihat kampus sebagai mitra yang mampu menyelesaikan masalah mereka.
Ukuran keberhasilannya pun perlu diperluas. Jangan berhenti pada jumlah publikasi dan paten. Kita perlu bertanya berapa produk yang masuk industri.
Berapa teknologi yang diadopsi. Berapa nilai transaksinya. Berapa perusahaan yang tumbuh dari hasil riset. Berapa lulusan yang memperoleh pengalaman nyata dari proses itu. Selama monetisasi paten masih 0,08 persen, pertanyaan-pertanyaan itulah yang lebih jujur menggambarkan hilirisasi.
Kampus tidak kehilangan fungsi akademiknya. Industri tidak kehilangan orientasi bisnisnya. Vokasi tidak kehilangan mandat pendidikan keterampilannya. Ketiganya justru saling menguatkan, dengan pemerintah sebagai perekatnya.
Pada akhirnya, hilirisasi bukan sekadar memindahkan hasil penelitian dari laboratorium ke pabrik. Hilirisasi adalah proses panjang mengubah pengetahuan menjadi teknologi. Teknologi menjadi produk. Produk menjadi bisnis. Bisnis menjadi nilai tambah bagi masyarakat.
Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Tidak kekurangan penelitian. Tidak kekurangan sumber daya. Kita bahkan bersiap membeli teknologi dari luar negeri. Yang masih perlu diperkuat adalah jembatan di antara semuanya.