Ini Alasan BI Cetak Ulang Rupiah Bertanda Tangan Purbaya dan Perry Warjiyo

Sabtu 26-09-2026,10:20 WIB
Reporter : Pandu Jaya Winanga*
Editor : Mohamad Nur Khotib

JAKARTA, HARIAN DISWAY - Bank Indonesia (BI) menjelaskan alasan kembali mencetak uang rupiah yang memuat tanda tangan mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan eks Gubernur BI Perry Warjiyo.

Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan pencetakan tersebut merupakan bagian dari kegiatan rutin bank sentral untuk memenuhi kebutuhan uang kartal masyarakat.

Menurut Destry, penerbitan uang rupiah dengan tanda tangan pejabat sebelumnya tidak dilakukan secara mendadak. Proses pencetakan mengikuti kebutuhan uang kartal serta tahapan produksi yang telah ditetapkan oleh BI.

“Hari ini terbit yang seri baru, tanda tangan dari Pak Menteri Keuangan yang lama dan Bapak Gubernur juga yang sebelumnya. Jadi hari ini keluar, hari ini atau beberapa hari yang lalu, tapi itu sudah ada. Ada yang minta kolektor?” ujar Destry dalam konferensi pers di Gedung BI, Jakarta, Kamis, 24 September 2026.

BACA JUGA:Tok! DPR RI Setujui Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia 2026–2030

Destry menegaskan pencetakan uang merupakan kegiatan normal yang dilakukan BI secara berkala setiap tahun. Karena itu, penerbitan uang dengan tanda tangan pejabat sebelumnya bukan sesuatu yang dilakukan secara tiba-tiba.

“Cetak uang itu kan hal yang normal. Setiap tahun kita cetak uang,” kata Destry.

Ia menjelaskan pencetakan uang dilakukan secara bertahap berdasarkan perhitungan kebutuhan uang kartal dalam periode tertentu. BI tidak langsung mencetak seluruh kebutuhan uang pada awal atau akhir tahun.

“Harus selalu yang tiap tahun itu ada masanya. Jadi mencetak itu nggak langsung jebret di awal tahun atau di akhir tahun, tapi ada tahapan-tahapannya. Karena biar gimana kan kebutuhan uang kartal itu masih ada,” ujarnya.

BACA JUGA:Menyambut Nakhoda Baru Bank Indonesia

Menurut Destry, kebutuhan uang tunai masih diperlukan masyarakat, terutama mereka yang tinggal di wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau sistem pembayaran digital.

“Khususnya untuk teman-teman kita yang masih ada di daerah, di luar jangkauan yang sinyalnya juga byar pet (nyala-hidup) gitu ya. Jadi itu hal yang biasa,” katanya.

Destry mengatakan keputusan mengenai pencetakan rupiah juga dibahas bersama pemerintah. Pembahasan tersebut mempertimbangkan target jumlah uang beredar serta kebutuhan penerbitan uang kartal dalam satu periode.

“Sepanjang di awal itu selalu kita ada bicarakan dengan pemerintah, kira-kira berapa target dari uang beredar yang nanti akan di dalam satu periode,” tutur Destry.

Koordinasi tersebut mencakup perencanaan kebutuhan uang kertas maupun uang logam yang akan diterbitkan BI. Pembahasan biasanya dilakukan menjelang akhir tahun untuk menentukan kebutuhan penerbitan pada periode berikutnya.

Kategori :