Ketika Meme Lebih Jujur daripada Pidato

Senin 28-09-2026,14:29 WIB
Reporter : Sukarijanto*
Editor : Yusuf Ridho

”Ada cara sederhana untuk mengukur kesehatan hubungan antara negara dan rakyat: cermati apa yang sedang ditertawakan rakyat!” (Z. Dolgopolova).

KETIKA kritik secara terbuka sangat berisiko, lelucon mengambil alih peran. Rakyat tertawa. Namun, di balik tawa, ada sesuatu yang disembunyikan: ketidakpercayaan. Bahkan, lelucon kerap kali dianggap sebagai media ”pembangkangan” terhadap kekuasaan.

Begitulah penggalan sarkasme dalam Mati Ketawa Cara Rusia karya Z. Dolgopolova yang pernah populer di Indonesia pada akhir 1980-an. Bukan sekadar kumpulan anekdot, ia menjadi bahasa bawah tanah warga Uni Soviet, sebelum bubar pada 1991, untuk ”menertawakan” birokrasi, propaganda, dan klaim keberhasilan penguasa. 

Ironisnya, makin besar propaganda tentang keberhasilan negara, makin subur pula lelucon masyarakat. Anekdot, selain menjadi instrumen pembanding antara narasi resmi dan pengalaman nyata, juga berfungsi sebagai katup pelepas tekanan sosial. 

BACA JUGA:Raja Meme, Keajaiban Parkiran, dan Minyak Seabad

BACA JUGA:Meme dan Negara yang Serius

Indonesia tentu bukan Uni Soviet era ’70–’80-an. Sistem ideologi, politik, ekonomi, kebebasan pers, dan konstitusinya jauh berbeda. Namun, ada mekanisme sosial yang berlaku universal. 

Ketika jarak antara narasi penguasa dan realitas yang dirasakan rakyat kian lebar, mereka mencari saluran alternatif. Ia bernama meme, satire, video pendek, dan parodi di platform media sosial. 

Jajak pendapat tentang kepercayaan publik Indonesia pada 2026 yang tersaji dalam survei Poltracking pada Mei 2026 mencatat tingkat kepercayaan terhadap lembaga kepresidenan sebesar 74,5 persen. 

Survei lain yang dirilis Juni mencatat kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran mencapai 74,2 persen dan kepuasan terhadap kinerja pemerintah 72,2 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa kepercayaan publik masih cukup tinggi. Namun, hasil survei SMRC pada Juli 2026 mencatat tingkat kepuasan terhadap kinerja Kabinet Merah Putih sebesar 51,1 persen, merosot dari 81,2 persen pada November 2025 dan 66,4 persen pada awal 2026. 

Hampir setengah responden menilai kondisi ekonomi buruk atau sangat buruk, sedangkan hanya 15,7 persen yang menilainya baik. 

Di sinilah kita perlu merenung sejenak. Bagaimana mungkin kepercayaan masih tinggi, tetapi persepsi terhadap ekonomi menurun? Jawabannya: kepercayaan publik bukan persoalan hitam-putih. 

Seseorang dapat tetap memercayai institusi, tetapi pada saat bersamaan merasakan tekanan bertubi-tubi: pekerjaan sulit dan biaya hidup meningkat. Trust in government tidak selalu berjalan beriringan dengan kepuasan terhadap kebijakan ekonomi. 

Secara makro, inflasi Agustus 2026 meningkat 3,19 persen secara tahunan. Penjualan eceran Agustus tumbuh 0,5 persen secara tahunan. Inflasi rendah pun tidak otomatis mencerminkan daya beli menguat. 

Kategori :