Menumpuk sampah di tempat wisata bukan hanya merusak estetika. Tetapi juga menghancurkan ekosistem pesisir, meracuni biota laut dengan mikroplastik.
Hingga pada akhirnya merugikan para nelayan lokal yang menggantungkan hidupnya dari laut Kenjeran. Sangat keliru jika kita menganggap urusan sampah adalah perkara sepele.
Tidak bisa diselesaikan secara sepihak. Apalagi hanya dengan mengandalkan dedikasi para petugas kebersihan kota.
BACA JUGA:THP Kenjeran Dibanjiri 9.000 Wisatawan selama Libur Lebaran, Puncak Kunjungan Diprediksi Akhir Pekan
Ketika kesadaran untuk menjaga hak sesama warga negara telah lenyap dan digantikan oleh mentalitas "yang penting bukan rumahku yang kotor", maka kita sebenarnya sedang menghadapi ancaman disintegrasi karakter sosial yang serius.
Jika kita merenung lebih dalam lagi, pemandangan kontras di Kenjeran itu sejatinya menjadi sebuah pukulan telak bagi kehidupan spiritual kita.
Sebagai masyarakat yang dikenal sangat religius, dengan simbol-simbol keagamaan begitu mudah ditemui di setiap sudut kota, perilaku membuang sampah sembarangan itu menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara doktrin keimanan dengan realitas perbuatan.
Kita tentu sering mendengar petuah suci yang mengidentikkan kebersihan sebagai cerminan dari kualitas iman seseorang.
BACA JUGA:Umat Konghucu Gelar Cisuak Larung di Pantai Kenjeran, Ritual Tahunan Jelang Imlek
Namun, tumpukan sampah di bawah papan larangan itu seolah menjadi kesaksian nyata. Bahwa ajaran spiritual sering kali berhenti sebagai hafalan di ruang-ruang kelas atau khotbah mimbar saja. Tanpa pernah benar-benar membumi dalam tindakan sehari-hari.
Menjaga kelestarian bumi dan kebersihan lingkungan hidup adalah amanah suci yang dititipkan kepada manusia sebagai pemimpin di muka bumi.
Alam semesta itu diciptakan dalam kondisi yang seimbang, penuh berkah, dan bersih. Ketika manusia mengotorinya secara sengaja, terlebih di area yang sudah jelas-jelas dilarang, tindakan tersebut tidak berbeda dengan merusak ciptaan-Nya. Juga mengkhianati amanah pemeliharaan alam.
Keimanan yang sejati seharusnya mewujud pada kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Sebab menghormati Sang Pencipta tidak dapat dipisahkan dari cara kita memperlakukan alam yang diciptakan-Nya.
BACA JUGA:Luluk ke Kenjeran, Soroti PSN yang Mengancam Nelayan