MUNGKIN tidak pernah dibayangkan. Bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat membawa kita pada pembicaraan tentang filsafat dan teori sastra.
Ketika nasi, lauk, sayuran, dan buah tersaji, yang muncul biasanya hanya pertanyaan sederhana. Tentang rasa lapar dan kenyang.
Namun, ketika makanan tersebut hadir dalam program MBG, sepiring makanan dapat membawa makna yang lebih luas. Ia bersentuhan dengan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, keluarga, negara, dan masa depan.
Dari situ kita dapat mulai memahami pemikiran Jacques Derrida tentang dekonstruksi. Dekonstruksi sering terdengar sebagai istilah yang rumit. Jauh dari kehidupan sehari-hari.
BACA JUGA:Gibran Kecam Pegawai SPPG Bantul yang Buat Guyonan soal Korban Keracunan MBG
BACA JUGA:Singgung Pakar Pengkritik MBG, Prabowo: Saking Pintarnya Jadi Goblok
Padahal, gagasan itu dapat dimulai dari kebiasaan sederhana. Yakni jangan terlalu cepat menganggap sesuatu telah memiliki makna yang pasti.
Derrida mengajak kita kembali membaca sesuatu yang terlihat selesai untuk menemukan ketegangan dan kemungkinan makna lain di dalamnya.
Kita terbiasa memahami dunia melalui pasangan yang berlawanan. Ada benar dan salah, baik dan buruk, kuat dan lemah, pusat dan pinggiran.
Pasangan semacam itu disebut oposisi biner. Persoalannya muncul ketika salah satu sisi ditempatkan lebih tinggi daripada sisi lainnya.
BACA JUGA:Sekolah Boleh Tolak MBG, BGN Bilang Syaratnya Begini...
BACA JUGA:Sudaryono: Keracunan MBG Banyak Terjadi karena Lauk dan Sayur Rusak
Dekonstruksi tidak sekadar membalik posisi tersebut. Tetapi mempertanyakan mengapa hubungan hierarkis itu terbentuk. Juga bagaimana kedua sisi sebenarnya saling bergantung.
Istilah MBG dapat membantu kita melihat cara kerja pemikiran tersebut. Kata “makan” berhubungan dengan kebutuhan manusia. Kata “bergizi” berkaitan dengan kesehatan. Sedangkan kata “gratis” berhubungan dengan tidak adanya pembayaran langsung dari penerima.
Ketika ketiga kata tersebut disatukan, maknanya berkembang menjadi lebih luas. Makanan dapat dibicarakan melalui persoalan kesehatan, pendidikan, kesejahteraan, ekonomi, dan masa depan masyarakat.