Ketika Program MBG Mengajarkan Kita Memahami Teori Dekonstruksi Derrida

Selasa 29-09-2026,17:41 WIB
Oleh: Muhammad Aditya Wisnu Wardana

Pertanyaan yang muncul bukan sekadar siapa yang lebih tinggi, tetapi bagaimana hubungan hierarkis tersebut dibangun melalui bahasa dan budaya.

BACA JUGA:Isi Menu MBG yang Disantap 293 Santri Ponpes Manbaul Hikam Sidoarjo sebelum Keracunan

BACA JUGA:Kapolresta Sidoarjo Cek Ratusan Santri Ponpes Manbaul Hikam yang Sakit Usai Santap MBG

Pembacaan semacam itu tentu membuka ruang untuk melihat posisi yang selama ini ditempatkan di luar pusat.

Sehingga, memahami dekonstruksi tidak harus dimulai dari istilah filsafat yang sulit. Kita dapat memulainya dari kebiasaan sederhana untuk berhenti ketika merasa sudah memahami sesuatu sepenuhnya.

Sepiring makanan dapat terlihat sebagai makanan. Setelah dibaca secara dekonstruktif, di dalamnya dapat ditemukan bahasa tentang berbagai hal yang telah disebutkan.

Begitulah cara Derrida mengajak kita membaca dunia. Dekonstruksi tidak menghancurkan makna. Tetapi membuka kembali makna yang dianggap telah selesai.

BACA JUGA:Mengembalikan Kemurnian Anggaran Pendidikan: MBG Harus Keluar dari RAPBN 2027

BACA JUGA:BGN Siapkan Digitalisasi Pelaporan MBG Sampai ke Tingkat Dapur, Kerjasama dengan Kemenkeu

Ia mengajak kita melihat pusat melalui pinggiran, kehadiran melalui ketidakhadiran, serta sebuah konsep melalui sesuatu yang membuatnya dapat dikenali.

Pada akhirnya, dekonstruksi adalah keberanian untuk membaca kembali sesuatu yang selama ini kita anggap sudah jelas.

Kita tidak berhenti pada pertanyaan tentang apa maknanya. Tetapi bergerak menuju pertanyaan tentang bagaimana makna tersebut dibentuk.

Dari sana kita menyadari bahwa bahasa tidak pernah sesederhana yang tampak. Dan sebuah makna selalu memiliki kemungkinan untuk dibaca kembali. (*)

*) Mahasiswa Pascasarjana Kajian Sastra dan Budaya, Universitas Airlangga.

Kategori :