Reshuffle Sudah, Ekonomi Menanti Kepastian

Senin 05-10-2026,21:02 WIB
Oleh: Gagas Gayuh Aji*

BELAKANGAN INI banyak keputusan ekonomi terasa harus dibuat sambil menunggu. Pengusaha menunda ekspansi karena belum yakin arah kebijakan. Investor mencermati perubahan kabinet dan regulasi. Rumah tangga berhati-hati membelanjakan uang karena harga dan kurs masih bergerak. 

Ketidakpastian akhirnya terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ketidakpastian hadir dalam keputusan sederhana seperti membeli sekarang atau nanti, memperluas usaha atau menahan diri, menanam modal atau menunggu keadaan lebih jelas.

Reshuffle kabinet pada 1 Oktober 2026 kembali mengingatkan kita pada persoalan itu. Presiden Prabowo Subianto melantik sepuluh menteri dan wakil menteri dalam Kabinet Merah Putih. 

Dari sudut politik, perubahan itu dapat dibaca sebagai konsolidasi, koreksi, atau penyesuaian kebutuhan pemerintahan. Dari sudut ekonomi, pertanyaannya menjadi berbeda, apakah sesudah reshuffle arah kebijakan menjadi lebih mudah dibaca?

BACA JUGA:Tiga Pilar Reshuffle yang Terlupakan: Pola Pikir, Budaya, dan Struktur

BACA JUGA:Reshuffle dan Kepercayaan Publik

Pertanyaan itu penting. Sebab, investor tidak hanya menghitung keuntungan, tetapi juga menghitung risiko.

Sesungguhnya, investor tidak terlalu takut pada kabar buruk. Kabar buruk yang jelas masih bisa dimasukkan ke spreadsheet. Harga energi naik sekian persen. Suku bunga berubah sekian basis poin. Pajak berubah pada angka tertentu. Semua masih dapat dihitung. Justru yang lebih sulit dihitung adalah arah yang terus berubah.

Pabrik dibangun untuk belasan bahkan puluhan tahun. Kontrak dibuat dalam jangka panjang. Perusahaan membeli tanah, mesin, teknologi, lalu merekrut pekerja. Karena itu, dunia usaha menyukai sesuatu yang dalam politik mungkin terasa membosankan, yakni kepastian.

Pasar Membaca Sinyal

Pada hari reshuffle, IHSG ditutup turun 1,02 persen ke level 6.009,50. Analis pasar menyebut pelaku pasar ikut mencermati ketidakpastian mengenai arah kebijakan setelah perubahan kabinet. Namun, kita perlu adil membaca keadaan. 

BACA JUGA:Reshuffle Ketujuh Kabinet Merah Putih: Golkar Menguat, ‘Geng Solo’ Terkikis

BACA JUGA:Setrum Politik Presiden: Reshuffle Menteri Tidak Berada di Ruang Hampa

Tekanan pasar tidak hanya berasal dari politik domestik. Sebelum reshuffle, rupiah bahkan sudah menembus Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) akibat tekanan global, termasuk kenaikan imbal hasil obligasi AS dan harga minyak.

Artinya, tidak tepat jika setiap pelemahan rupiah atau indeks saham langsung dibebankan kepada reshuffle. Ekonomi tidak bekerja sesederhana itu.

Kategori :