Namun, pasar selalu membaca sinyal. Pergantian pejabat, arah fiskal, perubahan regulasi, independensi institusi, dan kualitas koordinasi antarlembaga masuk ke kalkulasi risiko. Investor tidak ikut berdebat panjang di media sosial.
Mereka cukup memilih alternatif membeli, menahan, menjual, atau menunggu. Pilihan terakhir itulah yang menarik, yakni menunggu. Jadi, menunggu merupakan keputusan ekonomi.
BACA JUGA:Reshuffle Kabinet, Pertaruhan Prabowo Menguji Ekspektasi Pasar?
BACA JUGA:Reshuffle Kabinet Merah Putih
Ketika kebijakan sulit diprediksi, pengusaha dapat menunda ekspansi. Investor menahan masuk. Rumah tangga berhati-hati berbelanja. Makin lama ketidakpastian berlangsung, makin mahal ongkos yang harus ditanggung.
Modal Masih Datang
Meski demikian, terlalu berlebihan pula jika kita mengatakan investor telah meninggalkan Indonesia. Data BKPM menunjukkan realisasi investasi semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.
Investasi tersebut menyerap sekitar 1,45 juta tenaga kerja langsung. Pada triwulan II saja, realisasi investasi mencapai Rp511,8 triliun.
Data Bank Indonesia juga menunjukkan investasi portofolio asing pada triwulan III hingga 21 September masih mencatat net inflow sekitar 0,4 miliar dolar AS. Jadi, modal belum berhenti datang.
BACA JUGA:Selamat Datang, Kabinet Jumbo!
BACA JUGA:Siapa Supermenteri Kabinet Prabowo?
Tentu saja itu merupakan kabar baik. Sebab, Indonesia masih mempunyai pasar besar, sumber daya alam, tenaga kerja, serta peluang hilirisasi yang menarik. Namun, investor tidak hanya menilai potensi keuntungan. Mereka juga melihat kepastian hukum, konsistensi kebijakan, kualitas birokrasi, dan stabilitas fiskal.
Ketidakpastian Punya Harga
Dalam ekonomi, ketidakpastian bukan sekadar suasana hati, melainkan juga mempunyai harga. Jika risiko meningkat, investor meminta imbal hasil lebih tinggi. Jika aturan sulit diprediksi, perusahaan menambahkan cadangan biaya. Jika kebijakan berubah terlalu sering, rencana ekspansi dapat ditunda.
Itulah yang dikenal sebagai risk premium. Kian tinggi ketidakpastian, kian mahal biaya untuk meyakinkan modal agar bertahan.
Di tengah situasi tersebut, pemerintah menyampaikan rencana menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak untuk kali pertama sejak 2016. Tujuannya ialah menambah penghasilan yang dapat dibelanjakan masyarakat dan mendorong aktivitas ekonomi.