MANUSIA yang bengong dan tidak melakukan apa-apa menjadi pemandangan yang makin jarang dilihat. Menunggu antrean, duduk sendirian, makan, bepergian, bahkan sekadar berada dalam ruang kosong hampir selalu diisi dengan scrolling.
Seolah-olah, tiap detik dalam kehidupan harus diisi dengan informasi, hiburan, percakapan, atau sekadar menikmati konten. Sepertinya, waktu yang paling berharga adalah waktu yang berhasil dihabiskan di dalam ekosistem platform.
Entah kita sadari atau tidak, media sosial telah menjadi salah satu arena utama bekerjanya kapitalisme digital di abad ke-21. Dalam attention economy, perhatian manusia telah menjadi komoditas.
Interaksi, perilaku, relasi sosial, dan bahkan ekspresi identitas para penggunanya dapat dikonversi menjadi data dan bahan baku bagi proses akumulasi kapital korporasi digital.
BACA JUGA:Media Sosial sebagai Arsip Sejarah Personal: Dari Tumbuh Kembang ke Pekarangan Wong Cilik
BACA JUGA:Mengapa Kita Lebih Paham Hukum dari Media Sosial ketimbang Buku Undang-Undang?
Itulah yang oleh Shoshana Zuboff sebut sebagai era ”surveillance capitalism”. Era saat pengalaman manusia telah dijajah. Dijadikan bahan mentah untuk ektraksi data, diproses melalui tekonologi digital, lalu digunakan untuk menghasilkan nilai ekonomis yang sekaligus memprediksi dan memengaruhi perilaku kita.
Kini persoalannya menjadi lebih besar daripada sekadar pertanyaan, ”berapa lama kita menggunakan media sosial?” Problem utamanya adalah ”apa yang terjadi pada manusia ketika sebagian besar proses pembentukan dirinya berlangsung di bawah mediasi algoritma?”
Jawabannya, ”sebab, manusia memerlukan proses untuk menjadi dewasa.”
Tantangan utama masa dewasa awal adalah menjadi penulis kehidupan sendiri. Menjadi dewasa yang matang melibatkan rekonfigurasi mendalam tentang cara kita memahami pengalaman.
BACA JUGA:Paradoks Media Sosial: Sering Posting, Tetapi Kesepian
BACA JUGA:Algoritma Media Sosial dan Urgensi Literasi Multikultural
Dalam bahasa Robert Kegan dalam The Evolving Self: Problem and Process in Human Development, itu berarti proses perkembangan kedewasaan manusia yang berawal dari ”budaya mutualitas” menuju ”budaya identitas” berupa penulisan diri dan otonomi pribadi yang lebih kompleks.
Dengan demikian, kedewasaan bukanlah sekadar urusan usia biologis. Kedewasaan merupakan proses perkembangan psikososial ketika seseorang mulai mampu mengambil jarak dari lingkungan, merefleksikan pengalaman, membangun sistem nilai, mengambil keputusan, serta mengembangkan otonomi atas dirinya sendiri.
Kondisi itu membutuhkan individu yang mampu menggunakan ”suara pertama”, suara batin yang membentuk respons unik kita terhadap dunia.