Ya, kini dr Lia pun selalu kedatangan pasien dengan gangguan jiwa berat hampir setiap pekan, baik pria maupun wanita. Di ruang perawatan itu pula para pasien kerap mengeluh sedang tidak bahagia dan merasa tidak punya harapan hidup lagi.
“Gangguan jiwa yang tidak tertangani akan membuat kondisinya semakin parah dan mengakhiri hidup,” terangnya dengan nada agak sedih. Bahkan, ada pasien datang dengan kondisi sudah tidak sadar karena kekurangan oksigen.
Tak jarang, pasien datang membawa cerita kelam seperti mendapat bisikan halus untuk mengakhiri hidup. Mereka yang berisiko tinggi biasanya hidup seorang diri, tidak mempunyai dukungan sosial, serta menghadapi masalah kesehatan mental yang berat.
Umumnya, mereka mulai menarik diri dari lingkungan sosial. Namun, ada pula kelompok yang justru tampak tenang dan menyembunyikan lukanya di balik topeng keseharian.
“Orang yang kelihatannya senyam-senyum, tapi tahu-tahu besoknya sudah tiada. Smiling depression itu lebih menakutkan karena tidak kentara,” tambahnya.
Kondisi itu paling rentan menjangkiti Mereka yang dituntut harus selalu tersabar dan tersenyum di tengah tekanan batin. Yakni para pekerja di bidang jasa dan pelayanan publik. Seperti tenaga medis, customer service, hingga pramuniaga.
Tanda-tanda bahaya lainnya kerap kali termanifestasi di dunia maya. Mulai dari mengunggah status atau pesan pamitan bernada negatif, memasang foto-foto lama, hingga perubahan perilaku yang tidak biasa.
“Tiba-tiba pasang foto rumah masa kecilnya atau foto lama. Dia ternyata ingin kembali ke masa lalu yang menyenangkan,” papar Lila.
Rentang usia pasien dengan gejala tersebut pun sangat luas, mulai dari remaja hingga lansia. Selain itu, penderita penyakit kronis yang jatuh dalam keputusasaan juga sangat rentan karena harus menanggung sakit fisik dalam jangka panjang.
Di tengah tingginya kerentanan tersebut, layanan bantuan darurat justru didominasi oleh kaum hawa. Pengakses layanan Healing119.id tercatat 70 persennya adalah perempuan, mayoritas berusia 21 hingga 30 tahun.
Bahkan ada yang masih berusia 8 hingga 10 tahun. Lonjakan kontaknya pun signifikan, dari 350–400 kontak per hari kini melonjak menjadi 500–600 kontak per hari.
“Saat ini sudah ada kunjungan yang menghubungi, baik chat maupun telepon, itu lebih dari 220 ribu call ataupun WhatsApp selama lebih dari setahun,” beber Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Imran Pambudi dalam acara Temu Media Hari Pencegahan Bunuh Diri Sedunia di Kantor Kemenkes, Jakarta, pada 9 September 2026.
Meski demikian, ironisnya, angka kematian tertinggi akibat mengakhiri hidup justru didominasi oleh kelompok laki-laki. Kalimat penutup dari Imran menjadi pengingat yang telak bagi kita semua: “Laki-laki tidak bercerita. Langsung bertindak." (*)