Hari Kesehatan Mental Sedunia (2): Laki-Laki Tak Bercerita, Tapi…
Seorang pengamen badut tampak sedang frustrasi di pinggir jalan setelah tak banyak mendapatkan hasil.-Muhammad Daffa Sultan Lakoro for Harian Disway-
Riset menunjukkan bahwa kasus bunuh diri lebih sering terjadi pada pria. Mengapa? Padahal, semua orang tentu bisa mengalami krisis mental yang berat. Tanda-tanda ancaman itu sejatinya kerap hadir dan bersembunyi di sekitar kita.
—-
Tercatat 1.270 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang Januari hingga 7 November 2025. Atau rata-rata menyentuh 100 kasus tiap bulannya.
Angka dari Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat terus merangkak naik dalam tiga tahun terakhir: dari 1.440 kasus pada 2024, menjadi 1.509 kasus pada 2025.
Sebuah riset bertajuk Studi Autopsi Psikologis: Identifikasi Faktor Psikologis Penyebab Bunuh Diri di Beberapa Negara di Asia yang diterbitkan pada 30 Desember 2025 mengungkapkan fakta mencolok.
Kasus mengakhiri hidup di Asia, termasuk Indonesia, paling tinggi terjadi pada pria, dengan persentase di Indonesia mencapai 63 persen berbanding 37 persen pada perempuan.
Dekan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Diana Rahmasari menyoroti akar budaya yang turut memperparah situasi ini. Stigma sosial kerap menuntut laki-laki untuk selalu terlihat kuat dan pantang menunjukkan kelemahan.
“Masalah harus diselesaikan sendiri. Akibatnya, laki-laki terjebak dalam rendahnya kesadaran untuk mencari bantuan psikologis dan prinsip maskulinitas sehingga menyebabkan sulit mencari bantuan,” urai Diana kepada Harian Disway, Kamis, 8 Oktober 2026.
Tinjauan terhadap 82 penelitian menunjukkan bahwa kepatuhan kaku pada norma maskulinitas tertentu berkaitan erat dengan rendahnya kemauan seseorang mencari pertolongan psikologis. Padahal, depresi bukanlah tanda kelemahan dan bisa menimpa siapa saja tanpa memandang gender.
Kisah itu tergambar dari salah seorang pasien pria yang pernah dirawat di RSD Prof dr Moeljono Surabaya (dulu RSJ Menur). Ia adalah sosok tulang punggung keluarga yang terbiasa memendam semua bebannya seorang diri.
Tak ada yang menyangka bahwa di balik penampilan luarnya, ia tengah menanggung depresi berat akibat Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang disusul oleh perceraian dari sang istri. Karena kelihatannya baik-baik saja, depresinya luput dari penanganan.
“Semakin hari, ia suka menarik diri. Lalu, kami tidak tahu kalau gejalanya semakin berat sampai akhirnya terpaksa membawanya dengan ambulans ke rumah sakit ini, kondisinya buruk dan tidak sadar waktu itu,” tutur S, perwakilan keluarganya kepada Harian Disway.
Setibanya di IGD, pasien tersebut sempat dirawat di ICU untuk memulihkan fisik. Begitu sadar, ia sempat berteriak histeris.
Beruntung, petugas sigap memberikan suntikan semangat, mengingatkan bahwa masih ada anak dan orang tua yang mencintai serta mengharapkan kehadirannya. Berkat sentuhan dukungan emosional itu, kondisinya berangsur membaik dan ia harus menjalani perawatan intensif selama 14 hari di rumah sakit.
“Setelah sembuh, masih sering kontrol. Tetapi sekarang sudah bisa menjalankan aktivitas sehari-hari,” ujar dr Lila Nurmayanti, spesialis kedokteran jiwa RSD Prof dr Moeljono yang baru saja selesai menangani pasien dan mengedukasi keluarga pasien, Kamis, 8 Oktober 2026.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: