Kreativitas, AI, dan Kisah-Kisah Personal
ILUSTRASI Kreativitas, AI, dan Kisah-Kisah Personal.-MAULANA PAMUJI GUSTI-HARIAN DISWAY-
SEMESTER INI penulis mengajar materi creative writing di tiga kelas. Setiap kelas berisi sekitar 40 orang. Sebagai nilai tengah semester, mereka diminta membuat sebuah karya kreatif: bisa puisi, cerita pendek, dongeng, materi standup comedy, monolog, dan sebangsanya. Tidak hanya itu, mereka juga diminta membaca karya tersebut di kelas.
Penulis mendapat banyak karya yang menarik. Mereka benar-benar penulis yang baik. Meski kadang, ada sejumlah karya yang terdengar sejenis dengan judul yang terlalu puitik untuk karya orang-orang yang bukan beranjak dari disiplin sastra.
Sebagai contoh, Di Ambang Fajar yang Belum Tiba, Di Stasiun Bernama Harapan, Surat-Surat untuk Hari yang Belum Datang, Sebelum Pagi Menyebut Namaku, Kesetiaan pada Langit yang Mendung, dan lain semodelnya.
Keseragaman semacam itu mengingatkan penulis saat pertemuan pertama dengan mereka. Penulis memberikan pertanyaan secara acak, ”menurutmu, apa perbedaan antara creative writing, karya ilmiah, dan karya jurnalistik?”
Jawaban yang muncul nyaris selalu dengan kata kunci: kreativitas, imajinasi, dan emosi. Sejumlah yang ditanya ternyata punya jawaban serupa. Padahal, penulis tidak mengharuskan mereka menjawab pertanyaan itu secara teoretis: cukup berpendapat sebebas-bebasnya.
Mereka kelihatannya membuka aplikasi artificial intelligence (AI) serupa ChatGPT atau Gemini. Sembari ditanya, mereka langsung mengetik di gawai masing-masing. Keluar jawaban yang terlalu berbenang merah: jawaban yang tidak kreatif di kelas creative writing.
Penulis teringat saat membimbing seseorang untuk mengirimkan artikelnya ke jurnal Sinta 4. Orang itu diminta menulis sedikit (dua atau tiga kalimat) pengantar pada editor yang sebenarnya sudah didikte penulis.
Isinya kira-kira begini: Yang terhormat editor jurnal, berikut artikel saya berjudul bla bla bla, semoga sesuai dengan karakter jurnal ini (lalu sebutkan nama beserta nomor kontak WA). Seketika, penulis melihat yang bersangkutan membuka ChatGPT, duh! Bahkan, untuk hal sesederhana itu, sebagian manusia sudah sebegitu ketergantungan dengan AI. Alamak!
Kembali ke kelas creative writing yang penulis ampu: bahwa di tengah ide-ide menarik yang begitu banyak dan mirip-mirip, ada sejumlah cerita-cerita memikat.
Beberapa membuat penulis mengucek mata karena khawatir air dari sana mengalir. Kisah-kisah personal, yang dibawakan juga dengan cara sederhana tetapi emosional, terasa benar-benar hidup.
Ada puisi soal perempuan yang dipandang sebelah mata oleh keluarganya karena dia anak perempuan sendiri, sementara abang-abangnya bebas menentukan pilihan hidup. Terdapat cerita tentang perantau yang tidak pernah meninggalkan kampung halaman, tetapi di usia belum 20 tahun ternyata harus pergi sendirian ke luar pulau.
Hingga, puisi soal sebuah etnis di Indonesia Timur yang masih punya prinsip perbudakan (padahal, Nabi Muhammad SAW di masa awal kenabian 14 abad silam sudah meminta Bilal yang berkulit hitam naik ke tempat paling tinggi di Madinah, berada lebih tinggi daripada semua orang, untuk mengumandangkan azan memanggil sembahyang masyarakat).
Kisah-kisah personal itu menggugah dan memantik ingatan penulis pada kalimat dalam sebuah pidato kemenangan Bong Joon-ho, sutradara terbaik Academy Award atau Oscar ke-92 yang dihelat 9 Februari 2020.
”When I was young and studying cinema, there was a saying that I carved deep into my heart which is ’the most personal is the most creative’. That quote was from our great Martin Scorsese (Ketika saya masih muda dan sedang mempelajari dunia perfilman, ada sebuah ungkapan yang terpatri begitu dalam di hati saya, yaitu ’ makin personal sebuah karya, makin kreatif pula karya tersebut’. Kutipan itu berasal dari Martin Scorsese yang fenomenal.”
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Sumber: