Rekor Cadangan Beras

Rabu 14-10-2026,20:50 WIB
Reporter : Imron Mawardi*
Editor : Yusuf Ridho

Sejak kebijakan pembelian gabah sembarang kualitas itu diberlaukan, Februari 2025, harga gabah tidak pernah jatuh di bawah HPP. Saat ini di sejumlah daerah harga di petani bahkan melampaui Rp8.000 per kg. 

Salah satu pendorong kenaikan adalah kebijakan baru Bulog atas mandat pengadaan CBP sebanyak 4 juta ton tahun ini. Jika biasanya Bulog menjadi pembeli akhir, yaitu saat banyak gabah tidak terserap pasar, kini Bulog adalah pembeli awal. 

BACA JUGA:Impor Beras

BACA JUGA:Beras Fortifikasi, Mengapa RI Memerlukan HAPP-nya?

Target CBP menjadikan Bulog ”lapar beras”. Bulog juga harus bersaing dengan pengusaha beras premium. Itu menyebabkan harga gabah terus merangkak naik. Pada akhirnya, pengusaha tak mampu lagi membeli gabah sebagai bahan baku beras premium. Sebab, harga beras premium itu dibatasi dengan harga eceran tertinggi (HET), yaitu Rp 14.900 per kg. 

Ketika harga gabah mendekati Rp8.000 per kg, produsen beras sudah merugi. Jika pun memperoleh margin, itu sangat tipis. Dengan bahan baku Rp8.000, ditambah biaya proses dan pengemasan, harga pokok produksi bisa melampaui HET. Banyak produsen beras yang berhenti berproduksi.

Kondisi itu diperparah dengan  produksi yang mulai melandai sejak Juni 2026. Produksi menurun itu adalah siklus tahunan. Karena memasuki musim gadu, yakni Juni–September. 

Merujuk data BPS, produksi gabah kering giling (GKG) pada Juni hingga September 2026 terus naik. Dari 4,29 juta ton menjadi 5,83 juta ton pada September. 

BACA JUGA:Beras 4,9 Juta Ton: Rekor Sejarah di Tengah El Nino, Bukti Kedaulatan Pangan Indonesia

BACA JUGA:Polemik Beras Oplosan: Menakar Hak Informasi Konsumen

Namun, produksi itu masih lebih rendah daripada puncak panen raya pada Maret dan April 2026 yang masing-masing mencapai 8,71 juta ton dan 7,63 juta ton GKG.

Itu menyebabkan kompetisi memperebutkan gabah di pasar makin sengit. Itu terjadi karena Bulog masih terus mengejar pencapaian target pengadaan. Di sisi lain, kemampuan produksi gabah saat ini hanya seperempat kapasitas produksi penggilingan padi. 

Ketika Bulog masuk ke pasar dan menjadi pembeli awal dalam jumlah besar, kompetisi makin sengit. Sejumlah penggilingan dan produsen beras mengurangi produksi atau berhenti berproduksi. Sebab, mereka tidak bisa berjualan lagi. 

Jika menjual di atas harga eceran tertinggi (HET), mereka bisa berurusan dengan Satgas Pangan Polri. Sementara itu, jika menjual sesuai HET, mereka akan merugi. 

Untuk menyiasati impitan HET, sebagian produsen memproduksi beras khusus, yakni beras fortifikasi. Beras fortifikasi adalah beras yang diperkaya vitamin dan mineral tertentu. Karena nilai tambah itu, harganya lebih mahal daripada beras medium dan premium. 

Beruntung, pasar beras premium yang minim persediaan itu bisa sedikit ditutup Bulog. Bagi Bulog, tipisnya margin tetap bisa ditoleransi sebagai konsekuensi sebagai perusahaan milik negara. Berapa sebenarnya biaya produksi beras premium? 

Kategori :