Houthi oh Houthi

Sabtu 17-10-2026,09:33 WIB
Oleh: Eko Ernada*

BACA JUGA:Houthi Klaim Serang Dua Kapal Tanker Saudi, Navigasi di Laut Merah Terancam

BACA JUGA:Pemerintah Yaman Serang Bandara Sanaa, Houthi Balas Luncurkan Rudal ke Arab Saudi

Dampaknya bahkan terasa sampai Indonesia. Konflik yang tampak jauh di Yaman dan Saudi ternyata dapat mengubah rencana perjalanan orang-orang yang hanya ingin beribadah.

Di Kabupaten Tangerang, sekitar 400 jamaah umrah dilaporkan terdampak penundaan atau pembatalan penerbangan transit. Di Makassar, 53 calon jamaah juga tertunda keberangkatannya setelah penerbangan lanjutan dari Kuala Lumpur menuju Madinah dibatalkan.

Bayangkan, keluarga yang sudah menyiapkan tabungan, mengatur cuti, dan menanti keberangkatan ke Tanah Suci. Mereka tidak punya kepentingan dalam pertarungan geopolitik itu. Namun, ketika jalur penerbangan terganggu, mereka ikut menanggung akibatnya.

Pemerintah Indonesia menyatakan tidak ada jamaah umrah Indonesia yang menjadi korban langsung serangan tersebut berdasarkan pendataan hingga 11 Oktober. Namun, keselamatan tidak cukup dimaknai sebagai ketiadaan korban jiwa. Penundaan perjalanan, perubahan rute, ketidakpastian jadwal, dan kecemasan keluarga juga merupakan dampak nyata konflik.

Rudal tidak harus jatuh di Indonesia untuk mengganggu kehidupan orang Indonesia.

Thomas Schelling, dalam Arms and Influence (1966), mengingatkan bahwa kekuatan militer bukan sekadar kemampuan menghancurkan lawan. Kekuatan juga harus mampu memengaruhi keputusan lawan. Daya tangkal bekerja ketika ancaman dan konsekuensinya cukup meyakinkan untuk mengubah kalkulasi pihak yang hendak menyerang.

Karena itu, pertanyaan bagi Saudi bukan hanya berapa banyak rudal yang berhasil dicegat. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah apakah strategi pertahanannya mampu mencegah serangan berulang. Pembalasan militer mungkin diperlukan, tetapi jika tidak mengubah kalkulasi lawan, eskalasi justru berisiko memperpanjang konflik.

Saudi membutuhkan pertahanan udara yang efektif, perlindungan infrastruktur vital, sistem peringatan dini, dan kesiapan menghadapi gangguan penerbangan. 

Negara-negara yang terhubung dengan jalur penerbangan kawasan itu juga perlu memperkuat komunikasi krisis, menyediakan informasi yang cepat bagi penumpang, serta menyiapkan mekanisme bantuan ketika jadwal perjalanan berubah. 

Bagi Indonesia, perlindungan jamaah tidak berhenti pada imbauan agar tetap tenang. Koordinasi dengan maskapai, penyelenggara perjalanan, dan otoritas Saudi menjadi penting agar jamaah memperoleh kepastian tentang keselamatan, akomodasi, dan jadwal keberangkatan.

Houthi pun perlu memahami bahwa kemampuan menyerang bukan bukti kemampuan membangun perdamaian. Yaman telah terlalu lama menanggung kehancuran dan penderitaan. Serangan yang memperluas risiko bagi warga sipil hanya menambah panjang daftar korban konflik.

Houthi, oh Houthi. Rudal mungkin mengguncang Riyadh dan membuat dunia menoleh ke Yaman. Namun, keberhasilan menyerang tidak otomatis berarti kemenangan strategis.

Ujian sebuah negara bukan seberapa mahal senjata yang dimilikinya, melainkan seberapa aman penduduknya. Sementara itu, ujian bagi pihak yang melancarkan serangan bukan seberapa jauh rudalnya menjangkau, melainkan apakah tindakannya membawa penyelesaian atau justru memperpanjang penderitaan.

Sebab, ketika konflik membuat jamaah umrah tertahan di bandara, kita diingatkan bahwa perang tidak pernah benar-benar jauh. Ia bisa hadir dalam tiket yang batal, jadwal yang berubah, dan kecemasan keluarga yang menunggu di rumah. (*)

Kategori :