Relokasi Rantai Pasok dan Syarat Terciptanya Nilai Tambah

Senin 19-10-2026,15:08 WIB
Oleh: Prof. Rossanto Dwi Handoyo


Prof. Rossanto Dwi Handoyo, S.E., M.Si., Ph.D.-Dokumen Pribadi-

Pergeseran rantai pasok global akibat ketegangan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok kerap dipandang sebagai peluang bagi Indonesia. Peluang itu memang ada, tetapi tidak dengan sendirinya menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian nasional. Persoalan yang lebih mendasar adalah sejauh mana perekonomian domestik mampu menyerap relokasi industri yang terjadi.

Persaingan Merebut Relokasi

Tarif yang dikenakan Amerika Serikat terhadap produk Tiongkok sangat tinggi, pada beberapa produk bahkan melampaui 100 persen. Produsen Tiongkok yang ingin mempertahankan pasar Amerika harus memindahkan sebagian produksinya ke negara lain. Banyak negara berkembang kemudian menawarkan insentif fiskal dan moneter untuk menarik relokasi tersebut.

Dari sisi akses ke pasar Amerika, Indonesia tidak memiliki keunggulan tarif. Indonesia, Vietnam, Malaysia, Thailand, India, dan Meksiko dikenai tarif yang relatif sama, yakni sekitar 19 persen. Dengan demikian, keputusan perusahaan memilih lokasi produksi ditentukan oleh faktor lain, yaitu biaya logistik, kepastian regulasi, kualitas tenaga kerja, dan kekuatan ekosistem pemasok. Keempat faktor itu sepenuhnya bergantung pada kesiapan dalam negeri.

Relokasi yang Terbatas

Relokasi yang berlangsung sejauh ini cenderung terbatas pada kegiatan perakitan. Pada industri otomotif dan elektronik, suku cadang dan bahan baku umumnya tetap didatangkan dari Tiongkok. Produk akhir dapat berlabel buatan Indonesia, sementara komponen utamanya diimpor. Pola ini wajar karena Tiongkok berkepentingan mempertahankan lapangan kerja di sektor hulu.

BACA JUGA:Ketika Perdagangan Dunia Tak Lagi Sekadar Soal Tarif

BACA JUGA:IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Bekukan Sementara Perdagangan Saham

Perakitan tetap dapat diterima sebagai langkah awal, terutama bagi negara yang minim investasi. Ia baru bernilai bagi pembangunan ekonomi apabila diikuti tiga perkembangan: keterlibatan pemasok lokal secara bertahap, alih teknologi dari investor, dan tumbuhnya kegiatan penelitian dan pengembangan di dalam negeri. Tanpa ketiganya, relokasi hanya menjadikan Indonesia sebagai lokasi perakitan.

Pengalaman Jawa Timur

Jawa Timur menjadi contoh yang relevan. Investasi asing dari Tiongkok, Hong Kong, Jepang, dan Korea terus masuk, dengan nilai sekitar Rp72 triliun atau 3,7 miliar dolar AS pada tahun ini. Salah satu yang terbesar adalah smelter di Gresik.

Proses peleburan tidak hanya memerlukan bahan baku utama seperti konsentrat dari Papua, tetapi juga bahan baku penolong. Bahan penolong tersebut belum tersedia dari pemasok lokal di Jawa Timur sehingga harus diimpor dari Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jerman. Setiap komponen yang diimpor mengurangi nilai tambah yang tertinggal di dalam negeri.

Kebutuhan industri sebenarnya cukup besar untuk menopang banyak pemasok lokal. Kebutuhan PT Freeport dan industri manufaktur asal Tiongkok sama-sama signifikan. Kendalanya terletak pada kesiapan industri lokal dan usaha kecil menengah, serta minimnya alih pengetahuan yang dapat melahirkan pemasok baru.

Tenaga Kerja dan Produktivitas

Kategori :