Menggagas Nasirunan

Selasa 20-10-2026,13:05 WIB
Reporter : Arif Afandi
Editor : Yusuf Ridho

SEMULA saya melihatnya sekadar sebagai seorang seniman yang istimewa. Tapi, ternyata lebih dari itu. Ia telah menjelma menjadi rujukan komunitas. Bahkan, bisa berkembang menjadi mazhab kehidupan seniman.

Itulah yang terjadi pada diri Nasirun. Perupa kelahiran Cilacap yang belum seratus hari meninggalkan kita semua. Pelukis yang meninggalnya dikenang banyak orang. ”Saya sampai lelah diminta berbicara soal Nasirun,” kata Ugo Untoro.

Ugo mengungkapkan itu dalam diskusi Mewacanakan Nasirun di Artsubs, Balai Pemuda Surabaya, akhir pekan kemarin. Dosen ISI Yogyakarta itu menjadi pembicara bersama Sarah Monica dan Jumaldi Alfi. Diskusi tersebut dipimpin kurator Artsubs Nirwan Dewanto.

Sedangkan Alfi adalah perupa yang juga tetangga Nasirun di Perumahan Bayeman Permai, Yogyakarta. Sementara itu, Sarah adalah antropolog UI yang pernah meneliti karya-karya Nasirun. Alfi juga telah menerbitkan buku berjudul Hikayat Nasirun.

BACA JUGA:Pelukis Maestro Nasirun Tutup Usia: Hidup Tanpa HP, 'Zakat Kebudayaan', hingga Rumah Wates yang Rawat Ingatan

BACA JUGA:Profil dan Riwayat Hidup Nasirun, Pelukis Maestro dari Yogyakarta yang Tutup Usia

”Nasirun itu paradoks,” ujar Nirwan, mengawali diskusi. Ungkapan tersebut langsung disambut Sarah yang cantik itu. ”Ia mengubah ketradisian menjadi karya kontemporer.” Ia lantas memberikan sejumlah contoh karya Nasirun yang menjadi objek penelitiannya.

Diskusi yang diikuti para seniman itu lebih banyak ngrasani Nasirun. Bukan ngrasani tentang keburukannya, melainkan lebih kepada kebaikannya. Atau, memang sebagai seniman, Nasirun adalah contoh perupa yang tanpa ada perilaku buruknya. ”Ia tak pernah ngomong kasar, misuh, dan sebagainya,” tambah Ugo. 

Saya tentu tidak bisa memastikan seseorang tanpa keburukan. Namun, kesaksian teman-temannya itu menunjukkan sesuatu. Ada perilaku yang begitu membekas. Sampai ketika orangnya sudah tidak ada, yang terus hadir justru teladannya.

Nasirun meninggal saat cara hidupnya masih dibutuhkan para seniman lain. Itulah kesan yang saya tangkap dari cerita Alfi. Lima belas tahun bertetangga rupanya bukan sekadar urusan rumah yang berdekatan. Ada kedekatan lain yang tumbuh dalam keseharian.

Sepeninggal Nasirun, Alfi kehilangan gairah melukis. Ngedrop. Seperti orang linglung. Tidur pun sulit. Kehilangan itu mengganggu kehidupannya. Saya membayangkan, ada ruang yang mendadak kosong. Ruang yang sebelumnya diisi perjumpaan, percakapan, dan kehadiran seorang tetangga.

Kita memang sering baru menyadari besarnya seseorang setelah ia pergi. Ketika masih ada, kebaikannya terasa biasa. Karena dilakukan terus-menerus. Setelah tak ada, barulah terasa bahwa yang biasa itu ternyata luar biasa.

Ugo mengenang perkenalannya dengan Nasirun lewat bahasa ibu. Bahasa ngapak. Nasirun lebih dulu menyapanya. Saat Ugo baru masuk SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa). Menanyakan apakah ia orang Purbalingga. Sapaan sederhana yang langsung memperpendek jarak. Tidak perlu pengantar tentang reputasi atau pencapaian kesenian.

Dari situ saya menangkap bahwa Nasirun tidak merasa perlu meninggalkan asal-usulnya untuk menjadi seniman besar. Ia tetap membawa desa. 

”Nasirun itu tetap ndesit (sebutan ndeso atau kampungan, Red),” kata Nirwan. Membawa bahasa. Membawa cara bergaul yang membuat orang lain tidak harus bersusah payah menyesuaikan diri.

Kategori :