Nasirunan bisa sesederhana menjaga mulut ketika sedang marah. Tetap menyapa ketika sudah terkenal. Membuka kesempatan ketika punya kemampuan. Tidak malu pada bahasa ibu. Dan, tidak merasa berkurang ketika membantu orang lain tumbuh.
Mungkin itulah yang membuat kepergiannya terasa begitu mengganggu. Yang hilang bukan hanya seorang pelukis. Tapi, seseorang yang membuat orang lain merasa bisa menjadi manusia lebih baik.
Lukisannya tinggal di banyak tempat. Cara hidupnya tinggal di banyak orang. Dari situlah Nasirunan mungkin akan terus berjalan. Saya bersaksi, Nasirun memang seniman, perupa, pelaku kebudayaan, yang layak menjadi teladan.
Pekerjaan rumahnya kini bagaimana merawat karya-karya yang ditinggalkan. Agar tetap bisa dilihat generasi lintas zaman. Agar karya-karyanya tak hanya dinikmati para kolektor yang memilikinya. Tapi, mereka yang ingin belajar kehidupan dari pelukisnya.
Kelompok Nasirunan di Jogja mungkin telah memikirkannya. (*)