Merawat Sesama, Menguatkan Harapan Lansia dan Disabilitas

Selasa 20-10-2026,20:17 WIB
Oleh: Ghifary Mahindisyah*

KEPEDULIAN terhadap sesama tidak cukup diwujudkan melalui slogan. Ia harus hadir dalam tindakan nyata, terutama bagi mereka yang membutuhkan akses pelayanan kesehatan, dukungan sosial, dan kesempatan hidup yang setara. Sebab, ukuran kemajuan masyarakat bukan hanya pertumbuhan ekonomi, melainkan juga bagaimana masyarakat memperlakukan kelompok yang membutuhkan perhatian lebih.

Lansia, penyandang disabilitas, dan anak berkebutuhan khusus merupakan bagian dari masyarakat yang berhak memperoleh pelayanan dan penghormatan secara bermartabat. Mereka bukan objek belas kasihan, melainkan warga yang memiliki hak, potensi, dan kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial.

Semangat itulah yang tercermin dalam kegiatan A Heart for Health di Mercure Surabaya Grand Mirama, Senin, 19 Oktober 2026. Sebanyak 375 peserta memperoleh pelayanan kesehatan gratis dan bantuan sembako. Kegiatan tersebut diselenggarakan Kreasi Pemuda Tanpa Batas Surabaya bersama Nusantara Prestige Asia, dengan dukungan Prestige Group dan Mercure Surabaya Grand Mirama.

Namun, nilai penting kegiatan semacam itu tidak semata-mata terletak pada jumlah penerima manfaat. Lebih jauh, kegiatan tersebut mengingatkan kita bahwa kepedulian sosial perlu diterjemahkan menjadi tindakan yang berkelanjutan.

BACA JUGA:Gerak Adalah Obat bagi Lansia Pengidap Penyakit Kronis

BACA JUGA:Menua dengan Berdaya, Mencari Solusi Alternatif bagi Lansia Indonesia

Kesehatan Bukan Sekadar Urusan Pribadi

Kesehatan sering dianggap sebagai tanggung jawab individu. Setiap orang dituntut menjaga pola hidup dan memeriksakan diri ketika sakit. Padahal, kemampuan mengakses pelayanan kesehatan tidak selalu sama. Keterbatasan ekonomi, mobilitas, pendampingan, dan informasi dapat menjadi penghalang bagi sebagian masyarakat.

Dalam kegiatan A Heart for Health, peserta memperoleh pemeriksaan kesehatan umum, telinga, hidung, dan tenggorokan (THT), pemeriksaan laboratorium, serta pengobatan gratis. Mereka juga menerima bantuan sembako berupa beras, gula, minyak goreng, mi instan, dan kebutuhan pokok lainnya.

Bantuan tersebut tentu berarti bagi penerimanya. Akan tetapi, bakti sosial tidak semestinya dipandang sebagai jawaban tunggal atas persoalan kesehatan dan kesejahteraan. Pelayanan sehari dapat memberikan manfaat langsung, tetapi kebutuhan masyarakat sering kali berlangsung jauh lebih lama.

Karena itu, kegiatan sosial akan lebih bermakna apabila disertai edukasi kesehatan, pendampingan, dan tindak lanjut sesuai kebutuhan penerima manfaat. Tujuannya tidak sekadar membuat masyarakat merasa terbantu pada hari kegiatan, tetapi juga memastikan mereka mempunyai peluang lebih baik untuk memperoleh pelayanan yang dibutuhkan setelahnya.

BACA JUGA:Kuota Disabilitas: Membangun Kepedulian dan Respons Perusahaan

BACA JUGA:Inklusivitas yang Masih Pincang: Catatan Kritis di Hari Disabilitas

CSR Harus Melampaui Seremoni

Kegiatan tersebut juga mengangkat persoalan penting tentang tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR).

Kategori :